Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Mengapa Dentuman Anak Krakatau Bisa Terdengar Sampai Bandung? Ini Penjelasan Ilmiahnya

2026-09-05 17:06 WIB · aindari · 👁 836 dibaca

Suara letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mampu menjangkau jarak ratusan kilometer hingga terdengar di Bandung, fenomena yang memiliki penjelasan ilmiah tersendiri.

Dentuman keras yang bersumber dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan terdengar hingga wilayah Bandung, yang berjarak ratusan kilometer dari lokasi gunung berapi tersebut. Fenomena ini memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat: bagaimana suara ledakan vulkanik bisa merambat sejauh itu?

Secara ilmiah, kemampuan suara letusan gunung berapi untuk menjangkau jarak yang sangat jauh berkaitan erat dengan karakteristik gelombang infrasonik. Berbeda dengan suara biasa yang dapat didengar manusia, gelombang infrasonik memiliki frekuensi sangat rendah sehingga mampu merambat jauh melampaui batas pendengaran normal tanpa banyak kehilangan energi di perjalanan.

Selain sifat gelombang itu sendiri, kondisi atmosfer turut berperan besar. Lapisan atmosfer pada ketinggian tertentu dapat bertindak sebagai semacam saluran yang memantulkan dan mengarahkan gelombang suara kembali ke permukaan bumi dalam radius yang luas. Inilah yang menyebabkan dentuman dari satu titik bisa muncul kembali di lokasi yang jauh, bahkan melewati daerah-daerah yang sama sekali tidak mendengarnya.

Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Otoritas tersebut belum secara resmi mengonfirmasi apakah seluruh suara dentuman yang dilaporkan warga berasal langsung dari erupsi gunung tersebut. Kondisi kubah lava Anak Krakatau juga terus menjadi perhatian, terutama mengingat sejarah tsunami 2018 yang dipicu oleh longsoran tubuh gunung ini.

Sejumlah warga yang berada di sekitar perairan Selat Sunda mengaku mendengar dentuman hingga tiga kali. Meski demikian, kawasan wisata seperti Pantai Carita di Pandeglang dilaporkan tetap ramai dikunjungi wisatawan di tengah aktivitas vulkanik tersebut, menunjukkan respons publik yang beragam terhadap situasi ini.

Fenomena suara letusan yang terdengar jauh bukan hal baru dalam sejarah Krakatau. Letusan besar Krakatau pada 1883 tercatat sebagai salah satu suara terkeras dalam sejarah manusia, yang konon terdengar hingga ribuan kilometer. Anak Krakatau, yang tumbuh dari kaldera letusan tersebut, mewarisi potensi aktivitas serupa meski dalam skala yang berbeda.

Masyarakat diimbau tetap memantau informasi resmi dari PVMBG dan tidak mendekati kawasan berbahaya di sekitar gunung. Pemahaman tentang mekanisme perambatan suara ini penting agar publik tidak panik berlebihan, sekaligus tetap waspada terhadap potensi bahaya yang menyertai aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

Tag: Anak Krakatau, erupsi, gelombang infrasonik, vulkanologi, Selat Sunda