Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Hiburan

Nurdian Ichsan dan Nadya Savitri Menyusuri Jejak Porselen Jingdezhen

2026-07-16 17:03 WIB · aindari

Dua seniman keramik Indonesia menjadikan Kongres Akademi Keramik Internasional 2026 sebagai ruang untuk melihat langsung tradisi dan ekosistem kreatif Jingdezhen.

Kongres Akademi Keramik Internasional 2026 di Jingdezhen, Provinsi Jiangxi, China timur, menjadi momen penting bagi seniman keramik Indonesia Nurdian Ichsan. Pertemuan yang menghadirkan lebih dari 400 seniman dari lebih dari 40 negara itu berfokus pada pelestarian sekaligus pembaruan budaya keramik, dan menandai kehadiran langsung pertama Nurdian dalam forum tersebut setelah 10 tahun menjadi anggota International Academy of Ceramics atau IAC.

Dalam pameran karya anggota IAC, Nurdian menampilkan karya berjudul “Sumber: Sumur Jingdezhen” atau “Source: The Well of Jingdezhen”. Melalui karya itu, ia menggambarkan Jingdezhen sebagai titik asal peradaban keramik yang sejak lama menarik perhatian dunia. Ia menyusun bentuk menyerupai sumur dengan permukaan bata bertekstur kasar, lalu menempatkan porselen giok khas Jingdezhen di bagian tengah dan cahaya dari bagian dasar, sebagai penghormatan terhadap warisan panjang kota porselen tersebut.

Kunjungan ke Jingdezhen telah lama menjadi impian Nurdian. Seniman yang telah berkarya hampir tiga dekade itu mengenal kota tersebut sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah seni tembikar. Setelah tiba langsung, hal yang paling membekas baginya bukan hanya reputasi sejarahnya, tetapi juga kenyataan bahwa tradisi keramik di kota itu masih hidup dan terus berkembang dalam praktik sehari-hari.

Nurdian menilai Jingdezhen memiliki ekosistem keramik yang sangat aktif. Ia melihat banyak orang terlibat dalam industri tersebut, dengan pertemuan dan pameran karya yang berlangsung rutin setiap pekan. Menurutnya, kesinambungan warisan lama, keterampilan produksi buatan tangan, serta jaringan perajin setempat memberi dorongan kreatif yang berbeda dari pengalaman yang pernah ia temui sebelumnya.

Nadya Savitri, istri Nurdian yang juga seniman keramik, turut memanfaatkan kongres itu untuk menjelajahi Jingdezhen secara langsung. Setelah sebelumnya berkali-kali mendengar rekomendasi dari Nurdian, ia akhirnya dapat melihat sendiri kota yang dikenal sebagai ibu kota porselen. Nadya menilai bahan keramik berkualitas di Jingdezhen memiliki nilai yang menarik dibandingkan harganya, sesuatu yang menurutnya jarang ditemui di Indonesia. Ia juga melihat studio dan fasilitas di kota itu membuka banyak peluang untuk bereksperimen dalam penciptaan karya.

Sebagai profesor di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Nurdian belum dapat mendirikan studio di Jingdezhen karena masih memiliki tanggung jawab mengajar di Indonesia. Namun, ia membayangkan kemungkinan berkarya lebih lama di kota itu setelah pensiun. Untuk saat ini, ia ingin mendorong mahasiswanya datang ke Jingdezhen, karena bahan dan perajin di sana dinilainya dapat membantu mewujudkan beragam gagasan kreatif.

Perjalanan Nurdian dan Nadya dari Indonesia ke Jingdezhen mempertemukan pengalaman pribadi, pendidikan seni, dan jejaring internasional dalam satu ruang budaya. Lewat kongres IAC, keduanya tidak hanya menyaksikan reputasi ribuan tahun kota porselen itu, tetapi juga melihat bagaimana keterbukaan dan tradisi yang terus dirawat dapat memberi inspirasi bagi seniman keramik dari berbagai negara.

Tag: Nurdian Ichsan, Nadya Savitri, Jingdezhen, keramik, IAC