Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

BRIN: Bencana Bukan Sekadar Soal Teknis, Ilmu Sosial Humaniora Harus Dilibatkan

2026-09-16 17:09 WIB · aindari · 👁 526 dibaca

BRIN menegaskan pemulihan pascabencana membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang peka terhadap konteks sosial, budaya, dan kearifan lokal.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa penanganan pascabencana tidak bisa diselesaikan semata lewat pendekatan teknis dan administratif. Pelaksana Tugas Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, Muhammad Najib Azca, menyebut pemulihan pascabencana pada dasarnya adalah proses sosial yang kompleks, sehingga memerlukan kolaborasi lintas sektor, pendekatan multidisiplin, serta kepekaan terhadap konteks sosial, budaya, dan kearifan lokal setempat.

Pernyataan itu disampaikan Najib dalam acara Kick Off Meeting Task Force Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera BRIN yang digelar di Jakarta, Rabu. Forum ini menjadi penanda dimulainya kerja gugus tugas yang dibentuk BRIN untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana di Pulau Sumatera.

Dari sudut pandang ilmu sosial humaniora, Najib menjelaskan, bencana tidak semata-mata merupakan kejadian alam yang tiba-tiba. Bencana juga berkaitan erat dengan kondisi sosial yang terbentuk dalam jangka panjang — mencerminkan relasi sosial, tata kelola sumber daya, serta akumulasi kerentanan dalam dimensi ekonomi, budaya, dan politik suatu masyarakat.

Konteks ini menjadi relevan mengingat banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 2025. Menurut Najib, dampak bencana tersebut tidak tersebar merata, melainkan mengikuti garis ketimpangan yang sudah ada sebelumnya. Kelompok rentan — baik karena faktor ekonomi, gender, usia, maupun keterbatasan akses terhadap sumber daya — cenderung menjadi pihak yang paling parah terdampak sekaligus paling lambat dalam proses pemulihan.

Oleh karena itu, Task Force PRR BRIN disebut memiliki tanggung jawab untuk menjembatani hasil riset aksi dan inovasi teknologi dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan. Pendekatan ini diharapkan membuat intervensi pemulihan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Senada dengan itu, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat Muhammad Jusuf Kalla yang hadir dalam kesempatan yang sama menekankan bahwa pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Sumatera baru bisa dicapai secara maksimal apabila dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan berbagai pihak.

Gabungan perspektif sains, teknologi, dan ilmu sosial humaniora dalam satu kerangka kerja terpadu dinilai menjadi kunci agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana tidak hanya cepat, tetapi juga adil dan sesuai dengan kebutuhan komunitas yang paling terdampak.

Tag: BRIN, pascabencana, multidisiplin, Sumatera, kerentanan sosial