Sarang Walet Indonesia, Dari Gua Pesisir ke Pasar Ekspor Dunia
2026-07-18 06:04 WIB · aindari

Sarang burung walet berkembang dari pangan bernilai budaya menjadi komoditas ekspor peternakan yang menempatkan Indonesia sebagai pemasok utama dunia.
Indonesia kini menjadi pemain terbesar dalam perdagangan sarang burung walet dunia, dengan pasokan yang disebut mencapai hingga 80 persen kebutuhan global. Komoditas yang terbentuk dari air liur burung walet ini bernilai tinggi dan banyak diserap pasar Tiongkok, selain terus meluas ke sejumlah negara lain.
Jejak panjang sarang burung walet berkaitan erat dengan kawasan Asia Tenggara. Meski Tiongkok telah lama dikenal sebagai pembeli utama sejak berabad-abad silam, catatan yang dirujuk dari sejarawan Malaka, Lin Biao, menyebut penggunaannya telah tercatat pada abad ke-17. Dalam kisah itu, Admiral Zheng He dari Dinasti Ming disebut menemukan sarang walet saat armadanya berlindung dari badai di sekitar semenanjung Malaysia.
Saat persediaan makanan menipis, awak kapal mencoba sarang yang melekat di dinding gua pesisir. Setelah dimakan, kondisi tubuh mereka disebut membaik. Temuan tersebut kemudian dibawa ke lingkungan istana Dinasti Ming dan menjadi hidangan yang digemari kalangan bangsawan. Dari sana, sarang walet berkembang sebagai kuliner mewah Asia Timur sebelum berubah menjadi barang dagangan bernilai tinggi di pasar internasional.
Di Indonesia, narasi tentang sarang walet juga hidup dalam cerita rakyat. Salah satu kisah yang dikenal berkaitan dengan Kiai Surti, utusan Kerajaan Mataram Kartasura, yang disebut memperoleh petunjuk dari Dewi Suryawati untuk mencari obat bagi permaisuri di Gua Karang Bolong. Obat yang ditemukan dalam kisah tersebut adalah sarang burung walet.
Pemungutan sarang walet pada masa awal bukan pekerjaan mudah. Habitat burung ini berada di ceruk gua pesisir yang sulit dicapai, sehingga pemanen membutuhkan keterampilan khusus dan kehati-hatian tinggi. Di pantai selatan Jawa, terutama Karang Bolong, kegiatan panen juga terkait dengan adat setempat. Masyarakat menggelar wayang kulit sebelum panen dan menghindari adegan tokoh gugur karena diyakini berhubungan dengan keselamatan pemanen.
Perdagangan sarang walet di Nusantara tercatat sejak abad ke-15, ketika komoditas ini sudah dikenal di lingkungan petani kecil di Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Pada abad ke-17, pedagang dari Dinasti Ming makin aktif mencari sarang walet dari berbagai wilayah Nusantara. Hubungan panjang itu membentuk keterkaitan dagang Indonesia dan Tiongkok dalam industri sarang walet hingga masa modern.
Permintaan dunia yang meningkat membuat sarang walet menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan DKI Jakarta sempat menyebut ekspor sarang walet periode Januari–September 2025 mencapai 894,86 ton. Tujuannya tidak hanya Tiongkok, tetapi juga Hong Kong, Vietnam, Makau, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Produk ini juga dikenal karena kandungan protein yang dipercaya mendukung daya tahan tubuh, kesehatan jantung dan tulang, serta perawatan kulit seperti membantu memudarkan kerutan dan flek hitam.
Tag: sarang burung walet, peternakan, ekspor, komoditas Indonesia, walet