Earbuds Bluetooth dan Kesehatan: Radiasi Belum Terbukti Berbahaya, Volume Tetap Perlu Diwaspadai
2026-09-28 17:07 WIB · aindari · 👁 708 dibaca

Pemakaian earbuds Bluetooth sehari-hari dinilai tidak terbukti memicu kanker otak, tetapi penggunaan lama dengan suara keras dapat menimbulkan risiko pada telinga.
Earbuds Bluetooth kini menjadi perangkat harian bagi banyak orang, baik saat bekerja, berolahraga, maupun menikmati hiburan. Kemudahan tanpa kabel membuat perangkat ini semakin populer, tetapi pemakaian yang sangat dekat dengan telinga juga memunculkan kekhawatiran, terutama soal radiasi dan dampak pada pendengaran.
Isu yang paling sering dibahas adalah paparan radiofrequency atau RF karena earbuds digunakan di area kepala. Namun, perangkat Bluetooth bekerja dengan radiasi non-pengion, yaitu jenis radiasi berenergi rendah. Dalam laporan mengenai radiasi non-pengion dan kesehatan, World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa radiasi jenis ini tidak memiliki energi yang cukup untuk merusak DNA atau sel manusia secara langsung.
Dari sisi keselamatan paparan, nilai Specific Absorption Rate atau SAR pada earbuds Bluetooth disebut berada jauh di bawah ambang aman yang ditetapkan oleh badan regulasi internasional. Karena itu, anggapan bahwa penggunaan earbuds Bluetooth dapat menyebabkan kanker otak belum memiliki pembuktian ilmiah. Dengan kata lain, kekhawatiran utama bukan pada radiasi mematikan, melainkan pada cara dan durasi penggunaan.
Risiko yang lebih nyata berasal dari paparan suara, terutama bila volume dibuat terlalu tinggi. Suara yang masuk langsung ke saluran telinga dapat merusak sel rambut halus di koklea atau telinga bagian dalam. Kerusakan pada sel ini menjadi masalah serius karena sel tersebut tidak dapat tumbuh kembali setelah rusak, sehingga dapat berujung pada gangguan pendengaran akibat kebisingan.
Selain pendengaran, kebersihan dan kondisi saluran telinga juga perlu diperhatikan. Bentuk earbuds yang masuk ke telinga dapat menghambat aliran udara alami. Lingkungan yang lebih lembap dapat mendukung pertumbuhan bakteri, sementara kotoran telinga berisiko terdorong semakin dalam dan menumpuk. Kondisi ini dikenal sebagai cerumen impaction.
Pemakaian dalam waktu lama tanpa jeda juga dapat menimbulkan kelelahan telinga. Saat telinga terus menerima suara, otot-otot di dalamnya bekerja lebih berat. Gejala yang dapat muncul antara lain telinga berdengung atau tinnitus, serta rasa pusing. Karena itu, penggunaan earbuds Bluetooth sebaiknya tetap dibatasi, terutama dari sisi volume dan durasi, meski isu radiasinya belum terbukti sebagai ancaman kesehatan serius.
Tag: earbuds Bluetooth, kesehatan telinga, radiasi non-pengion, gangguan pendengaran, tinnitus