Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Nasional

Basarnas Masih Kaji Pemanfaatan KRI Sriwijaya-100 untuk Operasi SAR

2026-10-01 17:05 WIB · aindari · 👁 441 dibaca

Basarnas menyebut rencana penggunaan KRI Sriwijaya-100 dalam misi SAR belum masuk pembahasan teknis karena masih memerlukan kajian operasional.

Basarnas belum menyiapkan skema teknis untuk mengoperasikan KRI Sriwijaya-100 dalam misi pencarian dan pertolongan. Rencana penggunaan kapal induk itu sebagai pendukung operasi kemanusiaan masih berada pada tahap kajian, terutama terkait kebutuhan lapangan dan kesiapan teknis bila kapal dikerahkan ke lokasi bencana.

Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso di Jakarta, Kamis, mengatakan pembahasan belum mengarah pada koordinasi detail mengenai perlengkapan pencarian bersama unsur militer. Menurut dia, pemanfaatan kapal berukuran sangat besar untuk operasi SAR tidak bisa diputuskan secara sederhana karena memuat banyak aspek teknis yang harus dihitung sebelum digunakan.

Edy menjelaskan, kapal sebesar KRI Sriwijaya-100 memang berpotensi menjadi platform pendukung operasi laut dan udara, termasuk untuk wilayah terpencil. Namun, ia menekankan bahwa pengalaman penanganan fase tanggap darurat seperti banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara masih dapat dilakukan dengan armada yang saat ini tersedia.

Basarnas menilai sarana utama pencarian dan pertolongan yang dimiliki bersama TNI dan Polri sejauh ini masih memadai untuk menjangkau titik bencana di kepulauan Indonesia. Edy menyebut pengerahan kapal besar membutuhkan pertimbangan tambahan, mulai dari kedalaman perairan ketika mendekati lokasi hingga kemampuan dermaga setempat untuk menerima kapal dengan bobot besar.

Faktor kedalaman pantai dan kapasitas sandar menjadi perhatian penting karena tidak semua pelabuhan daerah memiliki fasilitas yang sesuai untuk kapal berukuran besar. Meski begitu, Basarnas tetap memperkuat keterhubungan operasi udara dan laut lintas instansi agar penanganan kecelakaan pelayaran maupun bencana alam di daerah terisolasi tetap berjalan efektif.

KRI Sriwijaya-100 merupakan bekas kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi buatan Italia. Kapal itu resmi berganti nama melalui upacara penurunan bendera di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis, 24 September. Kapal tersebut memiliki panjang 180 meter, lebar 33 meter, bobot penuh 13.850 ton, daya jelajah hingga 7.000 mil laut, dan kecepatan maksimum 30 knot.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya menyampaikan bahwa KRI Sriwijaya-100 diprioritaskan untuk Operasi Militer Selain Perang. Kapal itu diproyeksikan sebagai pangkalan terapung utama guna mempercepat respons darurat bencana di wilayah kepulauan. Kapasitasnya dapat menampung hingga 550 awak, lebih besar dibandingkan KRI Brawijaya-320 yang menampung sekitar 203 personel awak kapal.

Tag: Basarnas, KRI Sriwijaya-100, SAR, TNI AL, bencana