Kemenkeu Nilai Inflasi September Masih Terkendali dan Belum Menekan Belanja
2026-10-01 17:12 WIB · aindari · 👁 518 dibaca
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut inflasi tahunan 3,28 persen pada September 2026 masih dalam sasaran pemerintah sehingga belum menjadi tekanan besar bagi daya beli.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menilai laju inflasi terbaru Indonesia masih berada pada tingkat yang terjaga. Dengan posisi 3,28 persen secara tahunan pada September 2026, inflasi disebut belum memberi tekanan besar terhadap kemampuan belanja masyarakat karena masih masuk dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Pandangan itu disampaikan Juda dalam Media Gathering Kementerian Keuangan di Bogor, Jawa Barat, Kamis. Menurut dia, selama inflasi tetap berada dalam kisaran target, kenaikan harga belum menjadi faktor dominan yang mengubah keputusan masyarakat dalam berbelanja maupun mengambil keputusan ekonomi lain. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan inflasi yang masih terkendali.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indeks Harga Konsumen naik dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026. Selain inflasi tahunan 3,28 persen, BPS mencatat inflasi tahun kalender mencapai 2,17 persen, sementara inflasi bulanan berada di level 0,30 persen.
Juda menjelaskan bahwa inflasi yang mendekati batas atas sasaran tetap belum otomatis mengganggu keputusan konsumsi dan investasi, selama masih berada dalam rentang yang ditetapkan. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat maupun pelaku ekonomi dinilai tidak menjadikan inflasi sebagai pertimbangan utama untuk menunda belanja, konsumsi, atau investasi.
Ia juga membandingkan posisi inflasi Indonesia dengan sejumlah negara maju, termasuk Amerika Serikat dan Inggris. Menurut Juda, capaian Indonesia masih relatif lebih baik. Ia menyebut desain sasaran inflasi 2,5 persen plus minus 1 persen diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat agar kenaikan harga tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas.
Dalam penjelasannya, Juda menyinggung kebijakan harga energi sebagai salah satu aspek yang perlu dikelola hati-hati. Ia menyatakan, apabila harga bahan bakar minyak dinaikkan secara menyeluruh, dampaknya dapat lebih berat bagi kelompok menengah bawah, termasuk melalui kenaikan inflasi dan harga pangan. Di sisi lain, pemerintah tetap berupaya menjaga kondisi fiskal melalui efisiensi pada pos-pos pengeluaran lain.
Kemenkeu, menurut Juda, berupaya menyeimbangkan beberapa tujuan sekaligus: mempertahankan daya beli, menjaga pertumbuhan ekonomi, dan memastikan fiskal tetap sehat. Dengan inflasi yang masih dalam sasaran, pemerintah menilai ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik masih tersedia.
Tag: inflasi, daya beli, Kementerian Keuangan, BPS, ekonomi Indonesia