Warga Diminta Lebih Waspada terhadap Tanda Awal Serangan Jantung
2026-10-01 17:17 WIB · aindari · 👁 754 dibaca
Pakar FIK UI Masfuri menekankan pentingnya mengenali gejala dini serangan jantung agar pertolongan medis tidak terlambat.
Kesadaran masyarakat terhadap tanda awal serangan jantung dinilai masih perlu ditingkatkan. Pakar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia sekaligus Ketua Klaster Riset Acute and Critical Care, Dr Masfuri, mengingatkan bahwa banyak kasus serangan jantung tidak muncul secara tiba-tiba tanpa sinyal sebelumnya.
Masfuri menyampaikan hal itu di kampus UI Depok, Kamis. Ia menilai keterlambatan penanganan kerap terjadi karena gejala awal disalahartikan sebagai keluhan ringan. Kondisi seperti nyeri dada, sesak napas mendadak, atau keringat dingin sering dianggap sebagai masuk angin, gangguan lambung, atau kelelahan akibat aktivitas harian.
Menurut Masfuri, tanda yang perlu diwaspadai antara lain nyeri pada dada kiri dengan sensasi seperti tertekan beban berat. Gejala lain dapat berupa rasa panas atau terbakar di area ulu hati yang menjalar ke rahang, bahu, atau lengan. Keluhan tersebut dapat disertai keringat dingin dan sesak napas yang datang secara mendadak.
Ia menekankan bahwa mengabaikan gejala tersebut dapat mengurangi peluang keselamatan pasien. Dalam kegawatdaruratan jantung, keterlambatan beberapa menit saja dapat berpengaruh besar. Karena itu, nyeri dada yang tidak biasa, napas yang tiba-tiba terasa berat, dan keringat dingin perlu dipandang sebagai tanda bahaya yang membutuhkan perhatian medis segera.
Masfuri menjelaskan adanya masa krusial dalam penanganan serangan jantung, yakni sekitar 90 hingga 120 menit pertama sejak gejala muncul. Pada rentang waktu ini, tindakan medis cepat dapat membantu mencegah kerusakan permanen pada otot jantung serta meningkatkan peluang pasien bertahan hidup. Prinsip yang dikenal dalam kondisi ini adalah penghematan waktu berarti penyelamatan nyawa.
Jika menemukan seseorang dengan gejala serangan jantung, masyarakat dianjurkan segera menghentikan aktivitas korban dan membantunya berada dalam posisi duduk bersandar. Setelah itu, layanan gawat darurat perlu dihubungi atau korban segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat agar memperoleh penanganan medis.
Bila korban tidak sadar dan tidak bernapas normal, pertolongan pertama menjadi sangat penting. Masfuri menganjurkan resusitasi jantung paru atau Hands-Only CPR dengan menekan bagian tengah dada 100–120 kali per menit. Jika tersedia, Automated External Defibrillator atau AED dapat digunakan dengan mengikuti instruksi suara pada alat. Penelitian menunjukkan CPR dini oleh masyarakat awam dapat meningkatkan peluang hidup korban dua hingga tiga kali lipat sebelum tenaga medis datang.
Tag: penyakit jantung, serangan jantung, gejala dini, CPR, kesehatan