Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Umum

Malioboro Jadi Panggung Kolaborasi 1.001 Pembatik untuk Regenerasi Batik

2026-10-03 17:03 WIB · aindari · 👁 667 dibaca

Kegiatan membatik massal di Malioboro mendorong keterlibatan generasi muda sekaligus memperkuat upaya menjaga batik tradisional sebagai warisan yang terus berkembang.

Kawasan Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, menjadi lokasi kegiatan membatik massal dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional pada Sabtu (3/10). Bertajuk “Simfoni 1001 Pembatik 2026”, acara tersebut melibatkan 1.001 peserta dan diarahkan untuk memperkenalkan batik kepada masyarakat secara lebih luas, terutama generasi muda.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Emi Suryandari menilai kehadiran banyak anak muda di sekitar kegiatan menunjukkan mulai tumbuhnya rasa memiliki terhadap batik. Ia mengajak generasi penerus untuk mencintai batik asli Indonesia agar keberadaan budaya tersebut tetap memiliki penerus.

Menurut Emi, batik perlu dipandang bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu. Masyarakat diharapkan ikut menjadikannya sebagai warisan yang terus hidup, berkembang, dan melahirkan inovasi. Keterlibatan anak muda dalam kegiatan budaya dinilai menjadi salah satu cara untuk memperkuat proses pelestarian tersebut.

Staf Ahli Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Bidang Ekonomi dan Pembangunan Noviar Rahmat mengatakan kegiatan itu membentang sepanjang 550 meter. Rangkaian membatik dimulai dari Simpang Empat Terang Bulan dan berakhir di kawasan Monumen Serangan Umum 1 Maret. Pemilihan Malioboro sebagai lokasi dimaksudkan untuk menunjukkan kepada masyarakat luas, termasuk kalangan internasional, bahwa Yogyakarta tetap mempertahankan identitasnya sebagai kota batik dunia.

Ketua panitia Indah Rahayu Murnihati menjelaskan angka 1.001 ditetapkan sebagai target awal untuk mengajak lebih banyak orang mengenal batik sebagai warisan budaya. Antusiasme peserta bahkan membuat panitia kewalahan karena pendaftaran dan permintaan untuk ikut masih berdatangan hingga menjelang acara. Para peserta membatik secara beriringan dengan tema Sumbu Filosofi Yogyakarta, yang menggambarkan urutan motif Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Plengkung, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan.

Wakil Ketua Kadin DIY Gunarta Adibrata berharap kegiatan kolaboratif di pusat aktivitas ekonomi Yogyakarta itu dapat dikembangkan menjadi agenda budaya dan pariwisata tahunan. Peserta bernama Nugraheni menyebut membatik di ruang publik sebagai tantangan tersendiri. Ia juga menyoroti persaingan batik tradisional dengan batik cetak, seraya menilai batik tulis dan tradisional perlu terus didukung karena setiap motif memiliki pakem serta nilai cerita. Menurutnya, batik Indonesia telah dikenal hingga mancanegara dan perlu semakin dicintai oleh generasi muda.

Tag: batik, Yogyakarta, Malioboro, generasi muda, Hari Batik Nasional