Rencana Pusat Data AI Jatiluhur Disorot karena Kebutuhan Air dan Listrik
2026-10-03 17:06 WIB · aindari · 👁 842 dibaca

Rencana pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan di Jatiluhur memunculkan pertanyaan mengenai konsumsi air, pasokan listrik, serta kebutuhan regulasi.
Rencana pusat data berbasis kecerdasan buatan di kawasan Jatiluhur menjadi perhatian karena kebutuhan infrastrukturnya dinilai berpotensi berkaitan dengan ketersediaan air dan listrik bagi masyarakat. Sejumlah pemberitaan menyoroti proyek tersebut dari sudut pandang lingkungan, layanan publik, dan kebijakan pemerintah.
Salah satu laporan menyebut Dedi Mulyadi mengungkap alasan pusat data AI di Jatiluhur dihentikan. Materi yang tersedia tidak merinci alasan tersebut, tetapi penghentian proyek itu menjadi bagian dari perdebatan mengenai kelayakan pembangunan pusat data di kawasan yang memiliki keterkaitan dengan sumber daya air.
Kekhawatiran lain datang dari DPRD. Lembaga tersebut disebut takut proyek pusat data AI BDx menyerap air dan listrik dalam jumlah besar hingga berpotensi memengaruhi kebutuhan warga. Kekhawatiran itu menunjukkan bahwa pembahasan proyek tidak hanya berkaitan dengan investasi dan teknologi, tetapi juga dengan pembagian akses terhadap sumber daya dasar.
Besarnya kebutuhan air pusat data turut menjadi sorotan. Salah satu laporan menyebut fasilitas data center AI dapat memerlukan sekitar 400 liter air per detik. Angka tersebut digunakan dalam pembahasan mengenai dampak operasional pusat data terhadap sumber air. Namun, laporan lain memuat keterangan PDAM bahwa kebutuhan fasilitas tersebut tidak akan menguras Waduk Jatiluhur.
Perbedaan perhatian dan penjelasan itu memperlihatkan perlunya informasi teknis yang terbuka mengenai sumber air, volume pemakaian, mekanisme pendinginan, serta dampaknya terhadap layanan masyarakat. Materi sumber tidak memuat rincian desain fasilitas maupun perhitungan resmi terkait penggunaan air dan listrik proyek tersebut.
Lembaga Institute for Essential Services Reform juga disebut mendorong pemerintah menerbitkan regulasi terkait pusat data. Regulasi diperlukan sebagai dasar pengaturan bagi pembangunan dan pengoperasian fasilitas sejenis, terutama ketika pusat data AI berpotensi meningkatkan kebutuhan energi dan air.
Perdebatan mengenai proyek Jatiluhur pada akhirnya mencerminkan tantangan pengembangan teknologi AI di tingkat infrastruktur. Pembangunan pusat data dapat dipandang sebagai bagian dari kebutuhan ekonomi digital, tetapi potensi tekanan terhadap air dan listrik perlu diperhitungkan. Sentimen terhadap proyek dan dampaknya terhadap kepentingan publik akan sangat bergantung pada kejelasan aturan, data penggunaan sumber daya, serta jaminan bahwa kebutuhan warga tetap terlindungi.
Tag: pusat data AI, Jatiluhur, konsumsi air, listrik, regulasi teknologi