BMKG Pantau Penurunan Kualitas Udara Sulsel akibat Pergerakan Asap Karhutla
2026-10-03 17:08 WIB · aindari · 👁 574 dibaca

Asap kebakaran hutan dan lahan berpotensi masuk ke Sulawesi Selatan karena arah angin berubah-ubah, sementara kondisi udara di Maros sempat berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar melaporkan kualitas udara di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan terdampak asap kebakaran hutan dan lahan. Pengamatan di Stasiun Klimatologi BMKG Maros dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kondisi udara berada pada rentang sedang hingga tidak sehat.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, menjelaskan bahwa pergerakan asap dipengaruhi perubahan arah angin. Peta angin menunjukkan asap karhutla terpantau bergerak mengikuti angin dominan dari timur. Namun, pengamatan melalui Automatic Weather Station di Paotere mencatat angin juga banyak bertiup dari barat.
Dalam beberapa hari terakhir, angin yang membawa asap bergerak dari barat daya hingga barat laut. Polanya tidak menetap karena arah angin dapat beralih antara timur dan barat. Pada dini hari sampai menjelang siang, angin dari barat berpotensi membawa udara kotor ke Sulsel. Memasuki siang hingga sore, angin dari timur biasanya membantu mengembalikan kondisi udara menjadi lebih bersih.
BMKG menyebut asap yang masuk ke Sulawesi Selatan dapat berasal dari beberapa wilayah. Saat angin bertiup dari timur, asap dari Papua serta Maluku berpotensi terbawa ke wilayah Sulawesi. Sebaliknya, jika angin beralih dari barat, asap dari bagian selatan Kalimantan berpotensi masuk karena jaraknya lebih dekat. Perubahan tersebut dapat memengaruhi konsentrasi PM2.5 di udara.
Pemantauan prakiraan cuaca dan angin dilakukan untuk periode 24 hingga 72 jam ke depan. Namun, kondisi dapat berubah mengikuti pola angin dan sebaran titik merah pada peta pemantauan karhutla di wilayah Sulawesi serta sekitarnya. BMKG memperkirakan kualitas udara masih berpotensi berada pada kondisi tidak sehat dalam beberapa hari mendatang karena sebaran asap masih terlihat kuat.
Selain asap, suhu panas turut menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Suhu udara di Sulawesi Selatan selama musim kemarau berada sekitar 30-35 derajat Celsius, termasuk di Makassar dan sekitarnya. BMKG kini menilai kondisi panas menggunakan gabungan arah angin, suhu, kelembapan, dan radiasi, bukan hanya pembacaan termometer. Masyarakat diimbau mengenakan masker dan pakaian yang tidak menyerap panas ketika beraktivitas di luar rumah. Data AQI yang dipantau sekitar pukul 10.25 WITA menunjukkan Makassar dan sekitarnya berada pada level sedang, dengan PM2.5 sebesar 71 µg/m³ dan kategori tidak sehat.
Tag: BMKG, karhutla, kualitas udara, Sulawesi Selatan, PM2.5