Pertamina Dampingi 428 UMKM Batik untuk Perkuat Budaya dan Ekonomi Inklusif
2026-10-03 17:12 WIB · aindari · 👁 316 dibaca

Pembinaan mencakup penguatan usaha, inovasi produk, akses pasar, serta pelibatan penyandang disabilitas di sejumlah daerah.
PT Pertamina (Persero) memberikan pembinaan kepada 428 UMKM yang bergerak di sektor batik. Program tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sekaligus memperkuat kemampuan ekonomi masyarakat yang menjalankan usaha di bidang tersebut.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan pendampingan dilakukan melalui sejumlah aspek, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, pengembangan produk, hingga pembukaan akses pasar yang lebih luas. Perusahaan menilai UMKM dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan, memperoleh penghasilan, dan membangun kemandirian.
Pertamina juga menempatkan inklusivitas sebagai bagian dari pembinaan. Penyandang disabilitas dilibatkan dalam sejumlah kegiatan produksi batik, sehingga mereka memperoleh kesempatan untuk berkarya dan berperan dalam aktivitas ekonomi. Pendekatan ini disebut sejalan dengan upaya perusahaan mendukung kewirausahaan, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan industri kreatif.
Salah satu contoh binaan berada di Bantul, Yogyakarta, yakni Roona Batik yang dikelola Muhammad Syauki. Usaha tersebut telah berkembang menjadi bisnis fesyen dengan kapasitas produksi sekitar 5.000 lembar per bulan dan omzet sekitar Rp100 juta setiap bulan. Dari 18 pekerja yang terlibat, sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas yang ikut menangani proses produksi.
Di Yogyakarta, Batik Jinggar yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih mengembangkan produk fesyen berbasis batik dengan menghadirkan variasi motif dan desain. UMKM ini mencatat omzet sekitar Rp100 juta per bulan dan mempekerjakan delapan orang, termasuk dua penyandang disabilitas.
Sementara itu, Canting Batik Tulis Riau di bawah pengelolaan Novita Hermawan mengangkat kekayaan budaya setempat melalui produk batik tulis. Usaha tersebut mencatat omzet sekitar Rp150 juta per bulan dengan delapan pekerja, lima di antaranya penyandang disabilitas. Program Sriekandi Patra di Boyolali, Jawa Tengah, juga memberikan pelatihan membatik untuk mendorong kemandirian ekonomi dan sosial peserta.
Pembinaan itu terus didorong dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2026. Pertamina menyatakan pendampingan berkelanjutan diharapkan membantu UMKM mempertahankan warisan budaya, meningkatkan skala usaha, memperluas pasar, dan menciptakan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Tag: Pertamina, UMKM batik, ekonomi kreatif, penyandang disabilitas, pelestarian budaya