Medvedev Sebut Netralitas dan Pengakuan Wilayah sebagai Syarat Damai Ukraina
2026-10-04 05:30 WIB · aindari · 👁 684 dibaca

Dmitry Medvedev menyatakan penyelesaian politik jangka panjang di Ukraina mensyaratkan status netral, non-nuklir, penghentian kebijakan nasionalis, serta pengakuan atas empat wilayah yang diklaim Rusia.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menyampaikan sejumlah syarat yang menurutnya diperlukan untuk mencapai penyelesaian politik jangka panjang atas konflik Ukraina. Dalam wawancara dengan lembaga penyiaran Iran IRIB di Teheran pada Sabtu, 4 Oktober, ia mengatakan Ukraina harus mempertahankan status netral, tidak memiliki senjata nuklir, dan tetap merdeka.
Medvedev juga menuntut pemerintah Ukraina meninggalkan kebijakan nasionalis serta menghapus larangan terhadap segala hal yang berkaitan dengan Rusia. Syarat lain yang ia tekankan ialah pengakuan atas empat wilayah baru yang diklaim Rusia. Ia merujuk pada ketentuan dalam konstitusi Rusia yang menyatakan wilayah Donbass dan beberapa kawasan lain berada di bawah kedaulatan Rusia.
Menurut Medvedev, penerimaan terhadap tuntutan tersebut dapat menjadi dasar bagi proses diplomatik. Namun, ia memperingatkan bahwa Rusia akan berupaya mewujudkannya melalui cara militer apabila tuntutan itu tidak dipenuhi. Ia menyebut persyaratan tersebut sebelumnya telah disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan dengan pejabat senior Kementerian Luar Negeri Rusia.
Dalam wawancara yang sama, Medvedev menilai pandangan negara-negara Eropa yang menganggap Rusia sebagai ancaman menunjukkan bahwa Moskow tetap dipandang sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan. Ia menyatakan Rusia tidak mengancam Eropa maupun negara-negara Barat dan hanya menginginkan kerja sama yang tenang serta dialog normal. Menurut dia, narasi ancaman Rusia digunakan di Eropa untuk memengaruhi opini publik, meraih dukungan dalam pemilu, dan mengarahkan dana ke anggaran militer.
Medvedev menyalahkan negara-negara Eropa atas rusaknya hubungan ekonomi dengan Rusia. Ia mengatakan Eropa menjatuhkan sanksi dan menolak kerja sama, lalu menghadapi konsekuensi dari keputusan tersebut. Rusia dan Iran, yang sama-sama menghadapi lebih dari 33.000 sanksi atau jumlah yang disebutnya hampir menyamai pembatasan terhadap Iran, dinilai perlu membangun format kerja sama di bidang keuangan.
Mengenai Timur Tengah, Medvedev menggambarkan situasi keamanan di kawasan itu sangat buruk. Ia menilai konflik tersebut mendorong lebih banyak negara mempertimbangkan kepemilikan senjata nuklir dan menyebut kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran berisiko. Ia juga mengatakan Iran memiliki peran penting dalam keamanan Selat Hormuz berdasarkan posisi geografis dan hukum internasional, serta menilai hubungan Rusia-Iran telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk melalui kegiatan bersama di bidang pertahanan. Dari konflik Timur Tengah, ia menarik kesimpulan bahwa dunia perlu bergerak menuju tatanan multipolar yang mempertimbangkan pandangan semua negara, bukan hanya keputusan negara-negara Barat.
Tag: Rusia, Ukraina, Dmitry Medvedev, Iran, Timur Tengah