Hanung Bramantyo Jadikan Horor sebagai Jalan Membaca Luka Sejarah dalam Film Lobang Buaya
2026-10-04 06:10 WIB · aindari

Film Lobang Buaya memakai pendekatan horor psikologis dan misteri investigasi untuk menghubungkan tragedi 1965 dengan persoalan sosial yang masih relevan.
Sutradara Hanung Bramantyo menjelaskan alasan memilih pendekatan horor untuk film Lobang Buaya. Menurut dia, horor tidak semata-mata menghadirkan hantu atau mengandalkan jumpscare, tetapi juga dapat membangun tekanan psikologis yang membuat penonton merasa gelisah dan terus memikirkan teror yang ditampilkan. Gagasan itu menjadi dasar penggarapan film yang berlatar Indonesia pada 1964 hingga rangkaian peristiwa 1965.
Hanung menyampaikan pandangannya saat menghadiri kegiatan nonton bersama Lobang Buaya di Suncity Madiun XXI, Jawa Timur, Sabtu. Ia menilai latar sejarah tersebut memiliki hubungan kuat dengan genre horor karena tragedi yang terjadi pada masa itu telah menjadi bagian dari ingatan sekaligus ketakutan kolektif masyarakat Indonesia. Dengan demikian, ketegangan film tidak hanya dibangun melalui unsur supranatural, melainkan juga melalui beban sejarah dan pengalaman sosial yang diwariskan.
Meski dipasarkan dengan pendekatan horor, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat dipahami sebagai drama misteri investigasi. Ceritanya berpusat pada kematian tujuh orang yang berlangsung secara tidak wajar dan penuh teka-teki. Film ini juga mengangkat persoalan sosial di lingkungan desa, terutama praktik-praktik yang merugikan masyarakat.
Salah satu gagasan yang digunakan dalam cerita adalah istilah “7 Setan Desa”. Istilah tersebut menggambarkan kelompok atau pihak yang dianggap mengganggu kehidupan warga, mulai dari birokrat korup, rentenir, hingga pihak yang memiliki kepentingan untuk menguasai sumber daya. Persoalan itu kemudian ditempatkan bersebelahan dengan latar sejarah 1965, sehingga film berusaha mempertemukan peristiwa masa lalu dengan masalah sosial yang masih dapat dibicarakan pada masa kini.
Hanung mengatakan film tersebut dibuat untuk menyuarakan keadaan masyarakat dari sisi sosial, keagamaan, dan politik. Ia juga berharap Lobang Buaya dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mempelajari sejarah secara lebih kritis. Menurutnya, sebuah narasi sejarah bisa memiliki beragam sudut pandang, bergantung pada pihak yang menyusun serta mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Lobang Buaya diproduksi Adhya Pictures dan Dapur Film, lalu mulai tayang di bioskop pada 1 Oktober 2026. Pada hari ketiga pemutarannya, film itu mendapat sambutan penonton dalam pemutaran khusus di Suncity Madiun XXI. Acara tersebut dihadiri Hanung dan Carissa Perusset, pemeran Arum. Bupati Madiun Hari Wuryanto, yang datang bersama istrinya, mengapresiasi film itu dan berharap kisahnya dapat menginspirasi serta membantu generasi muda memahami peristiwa 1965. Ia menilai pengetahuan sejarah penting agar pengalaman masa lalu dapat menjadi pelajaran bagi masa depan.
Tag: Hanung Bramantyo, Lobang Buaya, Film horor, Sejarah 1965, Hiburan