Indonesia-China Perluas Kolaborasi Kuliner lewat Pendidikan dan Bisnis Pangan
2026-10-04 17:02 WIB · aindari · 👁 358 dibaca

Kemitraan kedua negara mencakup pelatihan chef, pendidikan vokasi, pengembangan fasilitas, serta penjajakan peluang usaha di sektor makanan.
Kerja sama industri kuliner Indonesia dan China berkembang melalui pertukaran keahlian, pelatihan tenaga profesional, pendidikan vokasi, dan pencarian peluang bisnis pangan. Salah satu wadahnya adalah Festival Perdagangan Bahan Makanan Global Indonesia Liangzhilong yang berlangsung di Jakarta pada 16-19 September. Sebanyak 10 perusahaan makanan asal China ikut serta dalam kegiatan tersebut untuk memperluas hubungan dagang dan kolaborasi industri pangan kedua negara.
Menurut Lu Yunze dari Liangzhilong Group, perusahaan yang terlibat mencakup bidang bumbu, bahan makanan, makanan kemasan, mesin pengolahan pangan, serta rantai pasokan katering. Keikutsertaan perusahaan dari berbagai subsektor itu menunjukkan bahwa kerja sama kuliner tidak hanya berkaitan dengan restoran atau resep, tetapi juga mencakup teknologi, produksi, dan distribusi makanan.
Penguatan hubungan juga dilakukan melalui program pendidikan. Pada Juni 2026, sebanyak 13 profesional kuliner dari Jiangxi mengunjungi Bali. Mereka memberikan pelatihan masakan Gan kepada lebih dari 50 mahasiswa Politeknik Pariwisata Bali. Para chef, termasuk Deng Dan, Zhu Zhongwei, dan Jin Xin, mendemonstrasikan sejumlah hidangan, salah satunya Xiaochao rou, yaitu daging tumis dengan cabai dan bahan lainnya. Deng menilai cita rasa masyarakat Bali dan Jiangxi memiliki kemiripan, terutama karena sama-sama menyukai makanan pedas, meski resep tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan setempat.
Dosen dan mahasiswa mendapat kesempatan mempelajari teknik memasak secara langsung. Perbedaan bahasa menjadi kendala, tetapi keberadaan penerjemah membantu proses pembelajaran. Setelah pelatihan, Sanbeiji atau Ayam Tiga Cangkir masih kerap dimasak di kampus karena rasanya diterima mahasiswa dan bahan-bahannya mudah diperoleh dari pemasok yang biasa digunakan untuk praktik. Antusiasme peserta juga dinilai tinggi karena mereka mengamati demonstrasi dan mencoba teknik yang diperagakan.
Kesiapan fasilitas turut mengalami perubahan. Saat kunjungan Jiangxi pada 2025, dapur kampus lebih banyak disiapkan untuk masakan Barat sehingga instruktur menghadapi kesulitan ketika mengajarkan hidangan China. Dalam kunjungan berikutnya, fasilitas tersebut telah ditingkatkan dan dinilai lebih sesuai untuk praktik masakan Tiongkok. Dukungan kelembagaan juga diperkuat melalui Konsorsium Pendidikan Kejuruan Internasional Tiangong, yang menghubungkan 19 lembaga vokasi dengan 25 perusahaan dan asosiasi industri di Jiangxi, termasuk untuk program di Indonesia.
Pada Juni 2026, Asosiasi Promosi Pengembangan Industri Kuliner Gan Jiangxi dan Politeknik Pariwisata Bali meresmikan kantor perwakilan asosiasi serta Basis Inkubasi Luar Negeri Masakan Tumis Jiangxi di Bali. Fasilitas itu diarahkan untuk mendukung pelatihan, pertukaran tenaga profesional, pengembangan menu, dan kerja sama industri. Delegasi Jiangxi juga mengunjungi restoran serta usaha kuliner di Bali guna mempelajari pola konsumsi dan operasional setempat, sekaligus menjajaki peluang usaha. Kolaborasi dijadwalkan berlanjut melalui kunjungan perwakilan Politeknik Pariwisata Bali ke Jiangxi pada Januari 2027.
Tag: kuliner, Indonesia-China, pendidikan vokasi, industri pangan, Jiangxi