Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Nasional

Empat Stasiun di Ujung Jawa dan Sumatra yang Menjaga Denyut Perjalanan

2026-10-04 17:07 WIB · aindari · 👁 613 dibaca

Merak, Ketapang, Krueng Mane, dan Tanjungkarang menunjukkan bagaimana jalur kereta api tumbuh bersama pelabuhan, kota pesisir, serta mobilitas masyarakat.

Jaringan kereta api di Jawa dan Sumatra tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antarkota. Di sejumlah titik terluar, stasiun menjadi bagian dari sejarah wilayah, tersambung dengan pelabuhan, dan tetap melayani aktivitas masyarakat hingga kini. Empat di antaranya adalah Stasiun Merak, Ketapang, Krueng Mane, dan Tanjungkarang.

Di bagian barat Pulau Jawa, Stasiun Merak berada tidak jauh dari Pelabuhan Merak. Lokasi ini membuat perjalanan kereta dapat dilanjutkan dengan penyeberangan menuju Bakauheni di Lampung melalui Selat Sunda. Jalur menuju Merak telah hadir sejak awal abad ke-20, sedangkan layanan yang berjalan sekarang melayani lintas Rangkasbitung–Merak.

Pada ujung timur Jawa, Stasiun Ketapang di Banyuwangi menjadi akses penting bagi perjalanan menuju kawasan tersebut dan perjalanan lanjutan ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk. Riwayat perkeretaapian di Banyuwangi dimulai ketika jalur menuju daerah itu dibuka pada 2 Februari 1903. Seiring perubahan aktivitas pelabuhan dan perkembangan kawasan, jaringan kemudian mencapai Ketapang.

Kinerja layanan di Ketapang juga menunjukkan tingginya aktivitas penumpang. Pada Januari–September 2026, stasiun itu mencatat 615.161 pergerakan pelanggan yang terdiri atas 292.618 pelanggan berangkat dan 322.543 pelanggan tiba. Angka tersebut naik 8,56 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang mencatat 566.643 pergerakan.

Di Sumatra, Stasiun Krueng Mane di Aceh menjadi salah satu titik ujung layanan penumpang aktif Kereta Api Cut Meutia. Layanan tersebut menghubungkan Krueng Geukueh, Bungkaih, dan Krueng Mane. Keberadaannya mempertahankan peran kereta api dalam mobilitas masyarakat Aceh sekaligus meneruskan sejarah perkeretaapian di wilayah utara Sumatra.

Sementara itu, Stasiun Tanjungkarang di Lampung memiliki kaitan erat dengan perkembangan jalur kereta api dan Pelabuhan Panjang. Pembangunannya dimulai pada 1911 dan stasiun diresmikan pada 30 Juni 1914. Pada tahap awal, fasilitas ini melayani pergerakan pegawai serta material dari Pelabuhan Panjang, sebelum berkembang menjadi salah satu stasiun utama di Lampung.

Aktivitas Tanjungkarang tetap besar lebih dari satu abad kemudian. Sepanjang Januari–September 2026, tercatat 562.993 pergerakan pelanggan, dengan 280.094 pelanggan berangkat dan 282.899 pelanggan tiba. Jumlah ini meningkat 13,99 persen dari 493.881 pergerakan pada periode yang sama tahun sebelumnya. KAI menilai keberadaan stasiun-stasiun tersebut memperlihatkan peran rel dalam menghubungkan kehidupan masyarakat, perjalanan, ekonomi, keluarga, dan pariwisata di berbagai daerah.

Tag: kereta api, Stasiun Merak, Stasiun Ketapang, Krueng Mane, Tanjungkarang