Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Pemerintah Menargetkan Campuran Bioetanol 20 Persen dalam Lima Tahun

2026-10-06 17:01 WIB · aindari · 👁 737 dibaca

Indonesia menyiapkan pengembangan bioetanol, perluasan bahan baku tebu, dan industri pendukung sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi hijau.

Pemerintah menargetkan peningkatan penggunaan bahan bakar nabati hingga campuran bensin dengan 20 persen bioetanol atau E20 dalam lima tahun mendatang. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan target tersebut saat menghadiri Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Selasa. Program ini ditempatkan sebagai bagian dari agenda transisi energi dan transformasi ekonomi nasional.

Zulkifli menyatakan optimistis sasaran E20 dapat dicapai dengan mempertimbangkan pengalaman Indonesia menerapkan biodiesel 50 persen atau B50. Menurut dia, pengembangan biofuel dan energi terbarukan dibutuhkan untuk menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Investasi di sektor tersebut juga dinilai berpotensi membuka lapangan kerja baru.

Pemerintah mengaitkan agenda E20 dengan upaya membangun pertumbuhan ekonomi yang lebih hijau. Dalam pelaksanaannya, pengembangan energi terbarukan dan bahan bakar nabati perlu berjalan seiring dengan penjagaan ketahanan pangan serta perlindungan lingkungan. Dengan demikian, pengembangan bahan bakar alternatif tidak hanya diarahkan pada kebutuhan energi, tetapi juga pada perubahan struktur ekonomi.

Salah satu fondasi pendukungnya adalah pembangunan pasar karbon yang kredibel dan transparan. Zulkifli menyebut pasar tersebut dapat menjadi salah satu pintu masuk pembiayaan internasional untuk mendukung pertumbuhan hijau. Kerangka penyelenggaraan nilai ekonomi karbon telah ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025, yang memuat instrumen perdagangan karbon, pajak karbon, serta pembayaran berbasis hasil atau result-based payment.

Dari sisi bahan baku, Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyiapkan lahan tebu yang sudah ada seluas 2 juta hektare untuk diolah menjadi bioetanol bagi Program E20. Permintaan itu disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan RI Jakarta pada Rabu (16/9). Tebu dipilih karena ketersediaan lahannya dinilai lebih memungkinkan dibandingkan lahan perkebunan jagung dan singkong.

Presiden juga menugaskan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyiapkan industri yang diperlukan untuk Program E20. Kesiapan bahan baku dan industri akan menjadi bagian penting dalam merealisasikan target tersebut. Pemerintah perlu mengembangkan rantai produksi bioetanol sambil memastikan agenda energi terbarukan tetap memperhatikan pangan, lingkungan, dan peluang pembiayaan hijau.

Tag: E20, bioetanol, energi terbarukan, tebu, ekonomi hijau