Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Skrining Zat Besi Penting bagi Remaja Putri sejak Menstruasi Pertama

2026-10-06 17:12 WIB · aindari · 👁 633 dibaca

Pemeriksaan kadar hemoglobin dan feritin dianjurkan untuk menemukan kekurangan zat besi sebelum berkembang menjadi anemia dan berdampak pada kehamilan.

Remaja putri perlu menjalani pemeriksaan kekurangan zat besi setelah mengalami menstruasi pertama. Anjuran itu disampaikan dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K), dalam seminar daring IDAI di Jakarta, Selasa.

Menurut Murti, kebutuhan skrining berkaitan dengan dua hal yang berlangsung pada masa remaja, yakni pertumbuhan yang cepat dan dimulainya menstruasi. Kehilangan darah yang terlalu banyak atau berlangsung terlalu lama saat menstruasi dapat mengurangi cadangan zat besi secara bertahap dan memicu defisiensi zat besi.

Kekurangan zat besi terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup mineral tersebut untuk membentuk hemoglobin. Protein dalam sel darah merah itu berfungsi mengikat serta membawa oksigen ke berbagai bagian tubuh. Kondisi ini dapat muncul sebelum kadar hemoglobin menurun hingga menyebabkan anemia, sehingga remaja masih mungkin tampak sehat dan tetap aktif meskipun cadangan zat besinya sudah berkurang.

Tanda-tanda yang perlu diperhatikan meliputi mudah lelah, tubuh terasa lemah, kulit atau bagian bawah mata yang terlihat pucat, serta denyut jantung yang cepat atau tidak teratur. Kekurangan zat besi juga dapat ditandai kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, rambut rontok, dan kuku yang mudah rapuh.

Murti menyebut rekomendasi American Academy of Pediatrics sebagai salah satu acuan. Organisasi tersebut menganjurkan skrining bagi seluruh remaja putri setelah menstruasi pertama atau paling lambat ketika berusia 14 tahun. Pemeriksaan yang disarankan mencakup pengukuran kadar hemoglobin dan serum feritin untuk menilai persediaan zat besi dalam tubuh.

Deteksi serta pencegahan sejak dini dinilai dapat mengurangi risiko anemia defisiensi besi berat, gangguan perkembangan kognitif dan fisik, serta penurunan daya tahan tubuh. Masalah ini juga dapat berlanjut hingga dewasa. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan berkesinambungan sejak masa remaja, berlanjut selama kehamilan, hingga periode awal kehidupan anak. Defisiensi zat besi pada ibu hamil berpotensi memengaruhi bayi dan proses persalinan, sementara kondisi ibu sebelum kehamilan turut berkaitan dengan kesehatan anak yang dilahirkan.

Tag: defisiensi besi, remaja putri, skrining kesehatan, anemia, menstruasi