Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

KEK Indonesia Diarahkan Menjadi Penghubung Investasi dan Teknologi Tiongkok

2026-10-07 06:05 WIB · aindari · 👁 838 dibaca

Pemerintah mendorong investasi perusahaan Tiongkok di kawasan ekonomi khusus untuk memperluas transfer teknologi, riset, dan kapasitas industri nasional.

Pemerintah mengarahkan masuknya modal asal Tiongkok ke kawasan ekonomi khusus (KEK) agar tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi. Investasi tersebut diharapkan memperkuat penguasaan teknologi, kegiatan penelitian, pengembangan sumber daya manusia, serta kemampuan industri dalam negeri. Kebijakan ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya membentuk ekosistem usaha dengan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Ali Murtopo Simbolon menyatakan Indonesia memiliki peluang untuk menjadi ruang kolaborasi akademik dan industri di tengah persaingan serta ketidakpastian global. Menurut dia, Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) dapat berperan sebagai penghubung kerja sama antara Tiongkok, Asia Tenggara, dan komunitas global. Arah tersebut juga menempatkan KEK sebagai tempat bertemunya kebutuhan pasar, kegiatan pendidikan, dan pengembangan industri.

Indonesia saat ini memiliki 25 KEK dengan total luas sekitar 23.797,88 hektare. Kawasan-kawasan itu telah membukukan investasi kumulatif sekitar 20,7 miliar dolar AS, melibatkan 481 badan usaha, dan menyerap lebih dari 283 ribu tenaga kerja. Pada triwulan II 2026, sebanyak 97 badan usaha atau sekitar 20 persen dari keseluruhan badan usaha di KEK merupakan perusahaan asal Tiongkok.

Salah satu wadah kerja sama yang digunakan ialah Two Countries Twin Parks (TCTP). Skema ini menghubungkan potensi pasar dan sumber daya Indonesia dengan modal, teknologi, serta kemampuan industri dari Tiongkok. Pemerintah mengarahkan kolaborasi tersebut pada proyek nyata dan pembentukan rantai industri yang saling terintegrasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh kedua negara.

KEK Kura-Kura Bali diproyeksikan menjadi salah satu lokasi pengembangan teknologi tersebut. Kawasan ini diarahkan untuk mendukung kecerdasan artifisial, riset dan pengembangan digital, semikonduktor, serta teknologi kuantum. Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menekankan pentingnya mempertemukan universitas, ilmuwan, perusahaan, industri, dan generasi muda dalam pengembangan kawasan itu. Kolaborasi lintas negara dan lintas sektor dinilai penting untuk membangun pusat talenta serta inovasi masa depan.

Sampai semester I 2026, KEK Kura-Kura Bali mencatat investasi kumulatif Rp1,8 triliun, penyerapan 2.173 tenaga kerja, dan 131.657 kunjungan. TSEA di kawasan tersebut telah menjalankan program fisika dan neurosains serta memprakarsai Semiconductors Forum bersama Tsinghua University. Pengembangan berikutnya mencakup program kecerdasan artifisial, riset dan pengembangan digital, serta ekonomi digital.

Tag: investasi Tiongkok, kawasan ekonomi khusus, transfer teknologi, KEK Kura-Kura Bali, industri digital