Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Bima Mendorong Garam Tambak Masuk Rantai Industri

2026-10-08 06:03 WIB · aindari · 👁 776 dibaca

Produksi garam Bima mencapai 119.311,24 ton pada 2025, tetapi peningkatan mutu menjadi kunci agar komoditas ini menghasilkan nilai tambah bagi petani.

Musim panen mengubah kawasan tambak garam di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, menjadi hamparan kristal putih. Komoditas itu menjadi sumber penghidupan sekitar 3.000 keluarga petani. Dengan rata-rata tiga hingga empat anggota dalam setiap keluarga, aktivitas tambak tersebut berkaitan dengan kebutuhan ekonomi sekitar 9.000 hingga 12.000 jiwa.

Pemerintah Kabupaten Bima kini berupaya memperluas peran garam, bukan hanya sebagai hasil panen, tetapi juga bahan baku kegiatan industri. Langkah itu diperlukan karena volume produksi yang besar belum otomatis meningkatkan posisi petani dalam rantai nilai. Sebagian besar garam Bima masih masuk kategori KW2 dan KW3, sementara produk KW1 hanya ditemukan di wilayah Nanga yang lokasinya dekat laut. Namun, kawasan tersebut belum memiliki akses jalan.

Data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima menunjukkan produksi garam bergerak naik-turun dalam lima tahun terakhir. Produksi tercatat 100.815 ton pada 2021, lalu turun menjadi 77.739,68 ton pada 2022. Angka tersebut kembali meningkat menjadi 108.686,98 ton pada 2023 dan 130.186,32 ton pada 2024. Pada 2025, produksi berkurang sekitar 8,35 persen menjadi 119.311,24 ton.

Garam itu dihasilkan dari lahan seluas sekitar 1.564,59 hektare yang tersebar di Kecamatan Palibelo, Woha, Bolo, Sape, dan Lambu. Hamparan tersebut menjadi salah satu modal ekonomi penting bagi masyarakat pesisir. Namun, kebutuhan industri tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku. Mutu, kesinambungan pasokan, dan kecocokan dengan spesifikasi pengguna juga menentukan kemampuan garam memasuki pasar pengolahan.

Wakil Bupati Bima H Irfan Zubaidy menilai peningkatan kualitas dapat memperbaiki harga sekaligus memperluas pasar petambak. Garam dengan standar lebih tinggi berpeluang digunakan dalam sektor pertambangan, kosmetik, serta industri makanan dan minuman. Pemerintah daerah juga meluncurkan merek garam konsumsi beryodium Garam Merah Putih Bima sebagai bagian dari upaya mendorong pengolahan komoditas di daerah.

Selama ini, garam dari Bima telah dipasarkan ke sejumlah wilayah, antara lain Bali, Jawa, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Banjarmasin, Kabaena, Medan, dan Jakarta. Perluasan pengolahan di daerah berpotensi meningkatkan nilai ekonomi sebelum produk dikirim ke pasar-pasar tersebut. Bagi petani, tantangannya bukan hanya mempertahankan produksi, tetapi juga meningkatkan mutu garam sejak dari tambak agar dapat memenuhi kebutuhan industri.

Tag: garam Bima, pertanian, petambak garam, hilirisasi, Nusa Tenggara Barat