Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Perubahan Suara dan Gangguan Pendengaran Dikaitkan dengan Risiko Demensia

2026-10-08 06:09 WIB · aindari · 👁 938 dibaca

Studi terhadap lebih dari 833 ribu orang menemukan hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, dan kemungkinan munculnya gangguan kognitif atau demensia.

Penelitian dari Drexel University College of Medicine di Philadelphia menemukan bahwa perubahan pada suara dapat berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan seseorang mengalami gangguan kognitif atau demensia. Perubahan yang dimaksud mencakup nada suara, volume, dan kejernihan ketika berbicara. Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap orang dengan gangguan suara pasti akan mengalami demensia.

Studi yang dimuat dalam Journal of Voice itu melibatkan 833.417 peserta berusia 50 tahun ke atas. Peneliti membandingkan kaitan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, atau kombinasi keduanya dengan kemunculan gangguan kognitif dan demensia, termasuk penyakit Alzheimer. Penilaian terhadap kondisi peserta dilakukan mulai satu tahun setelah mereka didiagnosis mengalami gangguan suara atau pendengaran.

Hasilnya menunjukkan bahwa peserta dengan gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi mengalami demensia atau gangguan kognitif pada kemudian hari. Pada peserta yang mengalami kedua gangguan tersebut, kemungkinan itu meningkat 104 persen. Jika seluruh peserta dengan gangguan suara digabungkan, baik dengan maupun tanpa gangguan pendengaran, peningkatannya tercatat 29 persen. Peserta yang hanya mengalami gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 27 persen lebih tinggi.

Robert Sataloff, profesor sekaligus ketua di Drexel University College of Medicine, menyebut hubungan paling kuat terlihat pada kelompok yang mengalami gangguan suara dan pendengaran secara bersamaan. Ia juga mengatakan bahwa kelompok dengan gangguan suara saja menunjukkan kemungkinan lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya mengalami gangguan pendengaran.

Gangguan suara yang disebut dalam materi penelitian antara lain laringitis, kelumpuhan pita suara, lesi pada pita suara, dan disfonia spasmodik atau distonia laring. Para peneliti menilai pemeriksaan serta penanganan gangguan suara tetap bermanfaat, termasuk bagi kesehatan otak. Kesulitan berbicara, rasa sakit, atau ketidaknyamanan dapat membuat seseorang mengurangi interaksi sosial. Padahal, aktivitas sosial dinilai dapat menstimulasi otak dan membantu menjaga fungsi kognitif.

Meski demikian, gangguan suara bukan penanda pasti demensia, Alzheimer, atau penurunan fungsi otak. Kondisi tersebut juga tidak selalu menjadi gejala awal gangguan kognitif. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya hubungan, bukan kepastian bahwa gangguan suara akan berkembang menjadi demensia.

Tag: demensia, gangguan suara, gangguan pendengaran, kesehatan otak, gangguan kognitif