Pengungsian di Yaman Meluas, PBB Soroti Krisis Kesehatan dan Bantuan
2026-10-08 11:30 WIB · aindari · 👁 489 dibaca

Lebih dari 184.000 warga Yaman meninggalkan rumah sejak 1 Agustus ketika konflik, wabah penyakit, dan hambatan akses bantuan terus memperburuk keadaan.
Jumlah warga sipil yang mengungsi di Yaman terus meningkat akibat konflik yang belum berakhir dan kondisi kemanusiaan yang memburuk. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyampaikan perkembangan itu pada Rabu (7/10), dengan mengacu pada data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Sejak 1 Agustus, lebih dari 184.000 orang tercatat meninggalkan tempat tinggal mereka di berbagai wilayah Yaman. Dalam satu pekan terakhir pada saat laporan tersebut disampaikan, jumlah pengungsi baru melampaui 21.000 orang. Angka itu menambah tekanan terhadap komunitas yang telah lama menghadapi dampak konflik dan keterbatasan layanan dasar.
PBB bersama organisasi mitra telah memberikan bantuan penyelamatan jiwa kepada lebih dari 126.000 orang. Namun, OCHA menilai skala kebutuhan masih jauh lebih besar daripada sumber daya yang tersedia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menghadapi kekurangan pendanaan yang serius ketika arus pengungsian bertambah dan sistem kesehatan Yaman yang sudah rapuh menerima tekanan tambahan.
Situasi kesehatan memburuk seiring penyebaran sejumlah penyakit. OCHA melaporkan kasus kolera meningkat tiga kali lipat dalam beberapa pekan terakhir, termasuk di lokasi-lokasi pengungsian. Campak, demam berdarah, dan malaria juga terus ditemukan. Keterbatasan dana berisiko mengurangi kemampuan layanan kesehatan dalam menangani wabah dan memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Akses menuju sejumlah wilayah turut terhambat. Jalan utama yang menghubungkan Kegubernuran Taiz dengan Hodeidah, Aden, dan Sanaa masih ditutup. Kondisi tersebut membatasi pergerakan warga, mengganggu arus pasokan komersial, serta menyulitkan organisasi kemanusiaan mengirimkan bantuan. Laporan di lapangan juga menyebutkan mulai langkanya barang kebutuhan pokok dan perlengkapan medis, sementara harga pangan serta bahan bakar melonjak. Ketersediaan tepung, gas untuk memasak, dan obat-obatan menjadi perhatian.
OCHA turut menyatakan keprihatinan atas laporan korban sipil, kerusakan properti warga, dan meningkatnya ancaman dari bahan peledak. Ancaman tersebut semakin mempersempit ruang gerak masyarakat serta jalur distribusi bantuan. OCHA terus mengevaluasi dampak krisis dan meminta seluruh pihak melindungi warga sipil serta memastikan pekerja kemanusiaan dapat memberikan bantuan dengan aman dan segera.
Tag: Yaman, PBB, pengungsi, krisis kemanusiaan, wabah penyakit