Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Olahraga

Gelar Perdana ASEAN Jadi Ujian bagi Kedewasaan Suporter Indonesia

2026-10-08 13:33 WIB · aindari · 👁 607 dibaca

Indonesia meraih trofi FIFA ASEAN Cup pertama setelah mengalahkan Thailand lewat adu penalti, sekaligus membuka ruang untuk menilai perjuangan John Herdman dan para pemain secara lebih adil.

Indonesia mencatat sejarah dengan menjuarai FIFA ASEAN Cup perdana setelah menundukkan Thailand melalui adu penalti 4–2 di Gelora Bung Karno pada 5 Oktober. Gelar tersebut mengakhiri penantian panjang sepak bola senior Indonesia sejak medali emas SEA Games 1991, atau selama 35 tahun. Keberhasilan itu segera mengubah kecemasan yang menumpuk menjadi perayaan nasional berskala besar.

Trofi tersebut lahir dari kontribusi kolektif. John Herdman menjadi sosok yang patut mendapat penghargaan, bersama Kevin Diks, Elkan Baggott, Dean James, Shayne Pattynama, Ole Romeny, Egy Maulana Vikri, Rizki Ridho, dan Emil Audero. Diks, yang memimpin tim sebagai kapten, menilai kemenangan itu membanggakan sekaligus menjadi pijakan bagi perjalanan berikutnya.

Salah satu gambaran paling kuat muncul ketika Audero menggagalkan tendangan penalti penentu Thailand. Herdman merespons dengan kepalan tangan dan teriakan penuh luapan emosi. Reaksi itu mencerminkan kelegaan seorang pelatih setelah berhasil menuntaskan tanggung jawab besar yang dipercayakan kepadanya oleh publik sepak bola Indonesia.

Situasi Herdman dua bulan sebelumnya sangat berbeda. Dalam ASEAN Hyundai Cup 2026, yang umum disebut Piala AFF, Indonesia kalah 0–3 dari Vietnam pada 3 Agustus dan tersingkir setelah bermain imbang 1–1 melawan Singapura pada 7 Agustus. Saat itu, sebagian suporter meneriakkan kecaman dari tribun, sementara media sosial dipenuhi desakan agar Herdman meninggalkan tim. Kritik terhadap pilihan taktik, koordinasi serangan, dan buruknya pertahanan merupakan evaluasi teknis yang wajar.

Namun, membandingkan Herdman dengan Shin Tae-yong untuk menjatuhkan harga dirinya bukanlah kritik yang membangun. Penilaian terhadap performa tetap diperlukan, tetapi penghinaan tidak dapat dibenarkan. Apalagi, sejumlah pemain penting seperti Pelupessy, Diks, Baggott, James, Audero, Paes, Verdonk, Hubner, dan Vickery tidak tersedia pada turnamen Agustus karena klub tidak wajib melepas pemain untuk ajang yang bukan agenda resmi FIFA.

Herdman lahir di Consett, Inggris, pada 19 Juli 1975, dan berkewarganegaraan Britania Raya. Ia pernah mengajar ilmu olahraga di Northumbria University serta terlibat dalam pembinaan pemain muda Sunderland. Sertifikat kepelatihan FA diraihnya pada 1995, sebelum memperoleh lisensi UEFA B pada 1999 dan diploma UEFA A. Ia menangani tim putri Selandia Baru pada 2006–2011, membawa Kanada meraih dua medali perunggu Olimpiade, lalu mengantar tim putra Kanada ke Piala Dunia 2022 setelah menunggu 36 tahun. Rekam jejak itu tidak menjamin setiap laga berakhir dengan kemenangan, tetapi mengabaikannya berarti menilai pelatih secara tidak utuh. Gelar perdana ini juga menjadi pengingat bahwa kualitas dukungan suporter diukur bukan hanya saat merayakan kemenangan, melainkan ketika memperlakukan mereka yang berjuang secara bermartabat.

Tag: Timnas Indonesia, John Herdman, FIFA ASEAN Cup, Thailand, Suporter