Stok Beras Bulog Menembus 5,4 Juta Ton pada 2026
2026-10-08 17:04 WIB · aindari · 👁 468 dibaca

Perum Bulog mencatat persediaan beras tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, sementara serapan gabah petani melampaui target pemerintah.
Perum Bulog mencatat puncak stok beras sebesar 5,4 juta ton pada 2026. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut capaian tersebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi bertajuk “Kemandirian Pangan Fondasi Kedaulatan Bangsa” yang dipantau secara daring dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis.
Selain persediaan yang mencapai rekor, Bulog melaporkan realisasi penyerapan beras sebesar 4,09 juta ton per 6 Oktober 2026. Jumlah tersebut telah melewati target 4 juta ton yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto. Capaian penyerapan itu menjadi bagian dari kebijakan Bulog dalam menjaga ketersediaan beras nasional.
Rizal menjelaskan, stok besar tersebut disiapkan untuk menghadapi kemungkinan gangguan produksi dan pasokan akibat kondisi iklim. Fenomena El Nino serta berbagai bentuk krisis iklim menjadi pertimbangan Bulog dalam membangun cadangan beras. Persediaan itu diharapkan dapat menjadi penyangga ketika kondisi produksi atau kebutuhan masyarakat mengalami perubahan.
Bulog juga berkewajiban menyalurkan persediaan tersebut ke seluruh wilayah Indonesia. Distribusi akan dilakukan melalui 26 kantor wilayah dan 544 kantor cabang, mencakup kawasan dari Sabang hingga Merauke serta dari Miangas sampai Rote. Penyaluran itu diarahkan agar beras Bulog tersedia dengan harga standar yang telah ditetapkan pemerintah.
Di sisi produksi, Bulog menyatakan akan terus menyerap gabah petani sepanjang 2026. Kebijakan tersebut dijalankan sesuai arahan Presiden Prabowo untuk memberikan kepastian harga dan mendukung kesejahteraan petani. Berdasarkan instruksi presiden, gabah petani dengan kondisi atau mutu apa pun diserap Bulog dengan harga Rp6.500.
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menilai cadangan beras yang dikelola Bulog dapat meredam kekhawatiran masyarakat terhadap risiko kelangkaan. Menurut dia, ketersediaan cadangan berperan dalam menjaga pasokan dan mengendalikan pergerakan harga di pasar. Persediaan yang cukup, bahkan melebihi kebutuhan, juga dapat menjadi antisipasi apabila permintaan meningkat atau pasokan berubah.
Titiek turut mengapresiasi produksi beras dalam negeri yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut berpotensi menekan ketergantungan terhadap beras impor. Dengan stok besar, penyerapan gabah yang melampaui target, dan jaringan distribusi yang tersebar, Bulog menempatkan cadangan beras sebagai salah satu instrumen untuk menjaga ketahanan pangan.
Tag: Bulog, stok beras, gabah petani, ketahanan pangan, pertanian