Kapten MT Hanour 25 Pulang, Trauma Setelah Lima Bulan Disandera di Somalia
2026-10-09 06:02 WIB · aindari · 👁 651 dibaca

Ashari Samadikun mengaku bersyukur dapat kembali kepada keluarga, tetapi masih dihantui kematian dua awak kapal dan beratnya kondisi selama penyanderaan.
Kapten kapal MT Hanour 25, Ashari Samadikun, telah kembali ke kediamannya di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, setelah dipulangkan pemerintah. Namun, pengalaman lima bulan berada dalam penyanderaan perompak Somalia membuatnya belum siap memastikan apakah akan kembali berlayar. Ia mengatakan kondisi mentalnya masih dalam pemulihan dan ingatan tentang para awak kapal terus muncul.
Ashari menyebut penyanderaan berlangsung sejak 21 April hingga 29 September 2026. Sebanyak 17 orang berada di kapal tersebut. Selama masa itu, dua awak kapal meninggal dunia dan tidak sempat berkomunikasi dengan keluarganya. Salah satu kenangan yang paling membekas adalah ketika kokinya meminta pertolongan sebelum meninggal. Peristiwa itu, kata Ashari, masih membuatnya terpukul karena ia menyaksikannya secara langsung.
Kondisi para tawanan memburuk pada bulan ketiga. Komunikasi terputus, makanan menipis, generator rusak, dan berbagai peralatan tidak lagi berfungsi. Mesin penghasil air tawar juga mengalami kerusakan, bahkan beberapa kali harus diganti motornya. Para awak kapal akhirnya berupaya menyalakan kembali mesin tersebut sambil berdoa. Di tengah situasi itu, Ashari berusaha menjaga semangat seluruh kru meski secara pribadi mulai merasa kemungkinan mereka untuk selamat semakin kecil.
Akses komunikasi dengan keluarga juga tidak diberikan secara merata. Para perompak hanya mengizinkan Ashari melakukan panggilan video untuk menyampaikan kepada Indonesia dan negara lain bahwa para sandera masih hidup. Awak kapal lainnya tidak memperoleh kesempatan serupa. Keluarga mereka pun harus menunggu tanpa kabar, sementara para tawanan menghadapi tekanan mental, keterbatasan makanan dan minuman, serta ketidakpastian mengenai pembebasan.
Dalam negosiasi, perompak pada awalnya meminta tebusan 7 juta dolar Amerika. Ashari menilai angka itu tidak masuk akal dibandingkan kapasitas muatan minyak dan nilai kapal. Permintaan tersebut kemudian turun bertahap menjadi 4 juta dolar, 3 juta dolar, 2 juta dolar, hingga 1,5 juta dolar. Ashari menyatakan tidak mengetahui pihak negara mana yang memenuhi pembayaran tersebut. Ia hanya mengetahui adanya Leslie dari Inggris yang menangani negosiasi uang dan seorang pihak lain yang menyediakan bantuan medis serta makanan.
Kini, Ashari memilih memprioritaskan pemulihan diri dan kebersamaan dengan keluarga. Ia belum mengambil keputusan untuk kembali melaut karena masih memikirkan kru yang meninggal dan trauma yang dialaminya. Meski demikian, ia bersyukur dapat selamat dan berkumpul kembali dengan keluarganya setelah masa penyanderaan berakhir.
Tag: Somalia, penyanderaan, MT Hanour 25, Ashari Samadikun, pembajakan kapal