Serat Berperan Menjaga Pencernaan dan Regulasi Emosi Anak
2026-10-09 06:02 WIB · aindari · 👁 784 dibaca

Asupan serat dari makanan maupun pangan fortifikasi dapat membantu mendukung kerja bakteri baik di saluran cerna anak.
Kecukupan serat menjadi salah satu unsur penting untuk menjaga kesehatan pencernaan anak. Pakar kesehatan masyarakat Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, M.K.K. menyampaikan bahwa pemberian zat gizi yang mendukung kerja sistem pencernaan, termasuk serat dalam jumlah memadai, telah didukung bukti klinis dan penelitian di Indonesia. Hal itu disampaikan dalam diskusi bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” di Jakarta, Kamis.
Menurut Ray, saluran cerna anak dihuni triliunan bakteri baik yang membantu proses pencernaan. Mikroorganisme tersebut membutuhkan serat agar dapat berfungsi secara optimal. Sumber serat yang dapat diberikan kepada anak antara lain sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Pemenuhan kebutuhan serat dapat menjadi tantangan bagi orang tua, terutama karena anak berusia di bawah lima tahun terkadang menolak makan sayur atau buah. Karena itu, orang tua perlu mencari cara agar bahan pangan tersebut dapat diterima anak dan tetap masuk dalam pola makan sehari-hari. Ray menekankan, kecukupan asupan gizi menjadi dasar untuk membantu saluran cerna bekerja dengan baik.
Selain bahan pangan alami, Ray menyebut produk yang diperkaya serat juga dapat menjadi pilihan. Beberapa jenis serat yang disebut ialah inulin, fruktooligosakarida atau FOS, serta galakto-oligosakarida atau GOS. Ia mengatakan, ketiga jenis serat tersebut secara klinis terbukti dapat mendukung kolonisasi bakteri baik dan meningkatkan produksi short-chain fatty acid, yakni senyawa asam yang dihasilkan dalam proses fermentasi serat di saluran cerna.
Dukungan terhadap keseimbangan bakteri dan produksi senyawa tersebut dikaitkan dengan kondisi pencernaan yang lebih baik. Ray menyebut kecukupan serat dapat membantu mencegah feses terlalu lunak, kolik, dan konstipasi. Ia juga menyampaikan bahwa saluran cerna dapat mengirimkan sinyal ke otak, sehingga regulasi emosi anak berpotensi menjadi lebih baik.
Ray menambahkan, gangguan pencernaan dapat membuat anak lebih mudah marah, cemas, atau mengalami tantrum. Penelitian berjudul “Breaking the cycle: Psychological and social dimensions of pediatric functional gastrointenstinal disorders” yang diterbitkan di World Journal of Clinical Pediatrics pada 2025 melaporkan sekitar 58 persen anak dengan gangguan fungsi pencernaan menunjukkan tanda disregulasi emosi. Temuan tersebut memperkuat pentingnya perhatian terhadap kesehatan saluran cerna sebagai bagian dari dukungan terhadap tumbuh kembang anak.
Tag: serat anak, kesehatan pencernaan, bakteri baik, gizi anak, regulasi emosi