BNPB Siapkan Penguatan Kesiapsiagaan Warga di Lima Wilayah Karangasem
2026-10-09 06:03 WIB · aindari · 👁 547 dibaca

Model kesiapsiagaan yang menempatkan individu dan keluarga sebagai fondasi akan diterapkan melalui program DESTANA di Karangasem, Bali.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong Kabupaten Karangasem, Bali, mengadopsi pola kesiapsiagaan bencana berlapis yang menempatkan individu dan keluarga sebagai unsur awal penanganan. Pendekatan tersebut merujuk pada praktik di Jepang, dengan penguatan kapasitas masyarakat dilakukan secara bertahap dari tingkat rumah tangga hingga desa atau kelurahan. BNPB menilai daya tahan suatu wilayah sangat dipengaruhi kemampuan masyarakat menghadapi ancaman di lingkungan terdekatnya.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan sistem kesiapsiagaan perlu dibangun mulai dari individu dan keluarga, kemudian diperluas ke lingkungan RT dan RW, serta pemerintahan desa atau kelurahan. Menurut dia, warga bukan hanya penerima bantuan saat bencana terjadi, tetapi juga bagian penting dari mekanisme penanggulangan bencana. Pola ini dinilai relevan bagi daerah yang menghadapi ancaman beragam, termasuk kekeringan, kebakaran lahan, dan banjir yang berulang.
Penguatan tersebut akan dilaksanakan melalui program Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (DESTANA) Tahap I. Program ini menyasar lima wilayah di Karangasem dan dijadwalkan berlangsung pada 28 September hingga 10 Oktober 2026. Lokasinya mencakup Desa Bugbug, Desa Pertima, Kelurahan Subagan, Desa Bungaya, serta Desa Bungaya Kangin. Kelima wilayah itu memiliki potensi menghadapi risiko geologi dan hidrometeorologi.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat akan difasilitasi untuk membentuk Kelompok Keluarga Tangguh Bencana (KATANA). Warga juga diarahkan mengembangkan Sistem Peringatan Dini (SPD) yang inklusif dan membangun Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat lokal. Pembentukan unsur-unsur tersebut dimaksudkan agar informasi ancaman, koordinasi, dan tindakan awal dapat berjalan lebih terarah ketika bencana muncul.
BNPB mengingatkan bahwa peta jalur evakuasi yang dibuat secara partisipatif harus digunakan dalam kegiatan nyata, bukan hanya disimpan sebagai dokumen. Jalur itu perlu disosialisasikan kepada warga dan diuji melalui simulasi secara berkala. Dengan cara tersebut, masyarakat dapat memahami rute evakuasi serta langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.
Kebutuhan latihan itu sejalan dengan Kajian Risiko Bencana Kabupaten Karangasem 2025-2029. Kajian tersebut mencatat potensi risiko tinggi berupa gempa bumi, erupsi Gunung Agung, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, dan kekeringan. BNPB menilai pemahaman warga dan pengujian kesiapan secara rutin menjadi bagian penting untuk memastikan rencana evakuasi dapat diterapkan saat ancaman bencana benar-benar terjadi.
Tag: BNPB, Karangasem, DESTANA, kesiapsiagaan bencana, Bali