Indonesia dan Bangladesh Perluas Agenda Dagang hingga Energi
2026-10-09 06:05 WIB · aindari · 👁 724 dibaca

Kunjungan Wamenlu Muhammad Anis Matta ke Dhaka menghasilkan dorongan baru untuk memperkuat perdagangan, investasi, konektivitas, dan kerja sama energi kedua negara.
Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Muhammad Anis Matta mengunjungi Dhaka pada 6–8 Oktober 2026 atas undangan Menteri Negara Urusan Luar Negeri Bangladesh Humaiun Kobir. Kunjungan tersebut diarahkan untuk mempertahankan perkembangan positif hubungan bilateral sekaligus membuka peluang baru di bidang ekonomi, perdagangan, investasi, pariwisata, dan energi.
Dalam pertemuan dengan pihak Bangladesh, Anis menyebut negara itu sebagai mitra ekonomi yang memiliki prospek besar bagi Indonesia. Nilai perdagangan kedua negara tercatat mencapai 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp66,6 triliun pada 2025. Angka tersebut menempatkan Bangladesh sebagai mitra dagang terbesar keempat Indonesia di antara negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam, setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Indonesia menilai hubungan dagang itu masih dapat dikembangkan, terutama karena jumlah penduduk kedua negara secara gabungan mendekati 500 juta jiwa. Pemerintah Indonesia optimistis nilai perdagangan bilateral berpeluang menembus angka dua digit dalam lima hingga 10 tahun mendatang. Untuk mendukung sasaran tersebut, kedua negara membahas peningkatan kerangka kerja sama dari Preferential Trade Agreement (PTA) menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), yang mencakup perdagangan, investasi, dan jasa.
Dhaka juga menyampaikan keinginan agar keseimbangan perdagangan lebih diperhatikan, termasuk melalui peluang ekspor produk farmasi dan serat yute ke Indonesia. Menurut Anis, kepentingan itu dapat diakomodasi lewat pengaturan timbal balik untuk komoditas yang saling melengkapi. Di sektor energi, kedua negara menyepakati pentingnya langkah konkret yang meliputi perdagangan batu bara, gas alam cair, bahan bakar minyak, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan energi baru terbarukan.
Sejumlah perusahaan milik negara Indonesia, termasuk Pertamina dan PLN, tengah mengejar proyek energi di Bangladesh melalui tender maupun kerja sama antarpemerintah. Pembahasan bersama otoritas energi Bangladesh turut melibatkan PLN Indonesia Power, PetroBangla, Bangladesh Petroleum Corporation, dan Power Development Board. Pertemuan itu berlangsung tidak lama setelah PT Pertamina Trans Kontinental ditetapkan sebagai pemenang tender pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas Single Point Mooring milik Bangladesh Petroleum Corporation senilai 128 juta dolar AS atau sekitar Rp2,3 triliun.
Selain agenda pemerintah, Anis menekankan pentingnya hubungan langsung antarwarga. Kemudahan visa dan penerbangan langsung Indonesia–Bangladesh terus didorong untuk memperkuat hubungan tersebut. Di Dhaka, ia bertemu pengusaha yang tergabung dalam Indonesia-Bangladesh Chamber of Commerce serta diaspora Indonesia yang bekerja di lembaga internasional dan perusahaan multinasional. Ia juga mengunjungi gerai Alfamart. Sejak hadir di Bangladesh pada 2025, jaringan ritel Indonesia itu telah membuka 11 gerai di sejumlah lokasi strategis Dhaka. Pemerintah menyatakan rangkaian kunjungan tersebut berlangsung produktif dan menghasilkan komitmen yang akan ditindaklanjuti.
Tag: Indonesia-Bangladesh, perdagangan, energi, investasi, diplomasi