ITSEC Dorong Pemakaian AI untuk Mengimbangi Serangan Siber yang Makin Masif
2026-10-09 17:06 WIB · aindari · 👁 672 dibaca

Pemanfaatan kecerdasan artifisial dinilai penting untuk memperkuat pertahanan digital karena teknologi serupa telah digunakan pelaku kejahatan untuk mengotomatisasi serangan.
Perusahaan keamanan siber ITSEC Asia mendorong penguatan sistem pertahanan digital melalui pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Langkah ini dinilai penting karena pelaku kejahatan siber juga menggunakan teknologi tersebut untuk menjalankan serangan yang lebih cepat, luas, dan terotomatisasi. Pandangan itu disampaikan President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher dalam konferensi pers AICX 2026 di Jakarta, Jumat.
Menurut Patrick, ketimpangan penggunaan teknologi dapat memberikan keuntungan besar bagi penyerang apabila sistem pertahanan tidak mengadopsi AI. Teknologi tersebut memungkinkan proses yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu dan tenaga dijalankan secara otomatis, sehingga skala serangan dapat meningkat secara signifikan.
Ransomware dan phishing menjadi contoh serangan yang berpotensi diperluas dengan bantuan agen AI. Seorang pelaku dapat mengarahkan serangan kepada ribuan perusahaan dan individu secara bersamaan. Pola serangannya tetap dapat berupa ransomware, phishing, atau rekayasa sosial, tetapi AI meningkatkan kecepatan pelaksanaan serta potensi dampaknya.
Patrick menjelaskan, pelaku kejahatan memiliki akses terhadap model AI dengan biaya yang relatif rendah. Teknologi itu bahkan dapat dijalankan secara lokal menggunakan komputer yang mereka miliki. Kondisi tersebut membuat kemampuan menyerang tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur besar atau biaya tinggi.
Karena itu, sistem keamanan siber perlu menggunakan AI untuk mengenali dan menghadapi pola serangan yang turut dibangun dengan teknologi serupa. Pemanfaatan AI menjadi bagian dari upaya memperkuat pertahanan, terutama ketika serangan berlangsung dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lebih singkat.
Selain teknologi, ITSEC menekankan pentingnya peningkatan kesadaran publik. Manusia masih menjadi salah satu titik rentan dalam sistem keamanan digital, sehingga edukasi perlu menjangkau berbagai kelompok. Perusahaan perlu memberikan pelatihan keamanan siber kepada karyawan, sedangkan orang tua perlu mengenalkan risiko penggunaan perangkat digital dan internet kepada anak-anak.
Patrick juga menilai penyampaian literasi keamanan siber melalui media massa berperan penting. Pelatihan menjadi dasar untuk membantu masyarakat memahami risiko dan konsekuensi serangan digital, sehingga penguatan pertahanan tidak hanya bertumpu pada perangkat dan sistem, tetapi juga pada kesiapan penggunanya.
Tag: keamanan siber, kecerdasan artifisial, ransomware, phishing, literasi digital