Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Teknologi

AI Dipakai Menata Pergerakan Alat Berat di Proyek Parlemen IKN

2026-10-09 17:08 WIB · aindari · 👁 464 dibaca

Teknologi kecerdasan buatan membantu tim proyek memilih rute alat berat dan menguji skenario konstruksi berdasarkan pembaruan data lapangan.

Pemanfaatan kecerdasan buatan mulai diterapkan dalam pembangunan Kompleks Parlemen Nusantara di Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur. Teknologi ini digunakan untuk menyusun dan mengoptimalkan jalur pergerakan alat berat berdasarkan informasi terbaru dari lokasi proyek. Tujuannya, potensi hambatan selama pekerjaan konstruksi dapat dikenali sebelum mengganggu pelaksanaan di lapangan.

CEO Bentley Systems Nicholas Cumins mengatakan tim proyek memperbarui data lokasi secara berkala, lalu memakai AI untuk membandingkan rute yang tersedia. Setiap kemungkinan skenario pekerjaan juga diuji melalui SYNCHRO. Menurut dia, proses tersebut membantu memeriksa kelayakan rencana dan mengurangi risiko munculnya kendala ketika alat berat bergerak di area pembangunan.

Cumins menyebut penerapan teknologi digital dalam infrastruktur kini tidak lagi terbatas pada tahap operasi dan pemeliharaan. Perangkat yang sebelumnya digunakan untuk inspeksi jarak jauh dengan drone dan pemantauan berkelanjutan melalui sensor, misalnya, mulai dimanfaatkan dalam pekerjaan konstruksi. AI pun digunakan di berbagai fase, mulai dari perencanaan serta desain hingga pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan infrastruktur.

Gambaran peningkatan penggunaan AI terlihat dalam ajang YII Awards 2026. Dari 300 pengajuan proyek konstruksi yang berasal dari 53 negara, terpilih 36 finalis. Materi penyelenggara juga mencatat bahwa 70 persen dari 336 finalis menggunakan AI dalam pekerjaannya, sedangkan 25 persen dari seluruh 300 pengajuan memanfaatkan teknologi tersebut. Data itu menunjukkan semakin banyak pelaku konstruksi memasukkan AI ke dalam proses kerja mereka.

Menurut Bentley Systems, AI dapat membantu tenaga ahli menangani beban pekerjaan yang meningkat. Teknologi tersebut mampu menyajikan sejumlah pertimbangan lapangan, menghasilkan pilihan desain, dan mempercepat proses optimalisasi. Dengan dukungan itu, para profesional dapat memeriksa perencanaan serta rancangan proyek secara lebih mendalam, sekaligus menekan kemungkinan kesalahan pekerjaan dan kerugian.

Namun, keputusan teknis tetap harus berada di tangan insinyur. Cumins menekankan bahwa AI hanya berperan sebagai alat bantu karena keputusan terkait aspek teknis, keberlanjutan, dan risiko berdampak langsung pada keselamatan publik. Karena itu, keluaran sistem perlu dinilai oleh manusia sebelum diterapkan dalam pekerjaan infrastruktur.

Di IKN, pemerintah dan sejumlah pihak terkait juga memakai teknologi serupa untuk pembangunan jalan. Salah satu contohnya ialah automatic compactor atau pemadat otomatis yang digunakan dalam pemadatan tanah, termasuk pada pembangunan Jalan Sumbu Kebangsaan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan. Pengembangan AI untuk jalan dan jembatan terus dilakukan melalui penerapan robotik, simulasi, serta teknologi yang mendukung peningkatan keselamatan lalu lintas.

Tag: kecerdasan buatan, IKN, konstruksi, alat berat, infrastruktur