Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Pasokan Beras Nasional Dinilai Aman meski Ritel Modern Sempat Kekurangan Premium

2026-10-11 06:06 WIB · aindari · 👁 865 dibaca

Ekonom menilai hambatan pasokan beras premium di sejumlah ritel modern merupakan dampak penyesuaian setelah penertiban produsen, bukan tanda terganggunya swasembada.

Keterbatasan beras premium di sejumlah ritel modern tidak serta-merta menunjukkan masalah pada swasembada beras nasional. Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menilai kondisi tersebut lebih berkaitan dengan proses penyesuaian produsen dan distribusi setelah pemerintah menindak dugaan pelanggaran dalam industri perberasan.

Menurut Awalil, produsen yang sebelumnya diduga tidak mematuhi ketentuan mengalami perubahan pola usaha setelah pengawasan diperketat. Penyesuaian itu berpotensi menghambat sementara pengiriman beras premium ke jaringan ritel modern. Ia menilai langkah penertiban tetap diperlukan untuk melindungi konsumen serta mempertahankan kepercayaan terhadap mutu pangan yang beredar.

Awalil membedakan persoalan pasokan di ritel modern dari kondisi stok beras nasional. Berkurangnya produk pada sebagian gerai, menurut dia, lebih mencerminkan perilaku dan kesiapan produsen menghadapi penegakan aturan, bukan kelangkaan persediaan secara nasional. Pemerintah juga dinilai perlu memastikan produk yang dijual sesuai dengan standar dan klaim kualitas pada kemasan.

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional Ito Hediarto menyatakan ketersediaan beras nasional masih aman. Berdasarkan pemantauan di Pasar Induk Beras Cipinang, stok hingga awal Oktober diperkirakan berada di kisaran 40 ribu-50 ribu ton. Pergerakan beras di pasar tersebut tetap berlangsung normal, dengan arus keluar-masuk sekitar 1,8 ribu-2,5 ribu ton per hari. Pasokan di pasar nonritel juga disebut masih melimpah sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Data pemantauan Bapanas menunjukkan harga beras premium di tingkat distributor atau grosir masih berada pada kisaran Rp12.860-Rp14.200 per kilogram untuk kemasan besar. Pemerintah mengawal distribusi menuju ritel modern melalui pusat distribusi dan bekerja sama dengan Perum Bulog serta Satuan Tugas Pangan untuk mengawasi kemungkinan penyimpangan. Hingga awal Oktober, Bulog telah merealisasikan pengadaan setara beras komersial sebanyak 75,3 ribu ton, di luar Cadangan Beras Pemerintah.

Dari sisi produksi, Bapanas menyebut pasokan tetap terjaga meski Indonesia menghadapi musim kemarau dan fenomena El Nino. Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras Januari-Agustus 2026 mencapai 25,29 juta ton, naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Luas panen padi Januari-November 2026 diperkirakan mencapai 10,56 juta hektare, lebih tinggi daripada periode El Nino pada 2023 dan 2024. Sebelumnya, pemerintah menemukan 25 merek beras fortifikasi yang diduga tidak sesuai standar dan label. Produk-produk itu diperintahkan untuk ditarik, izinnya dicabut, dan pihak terkait diproses sesuai hukum. Dugaan pelanggaran tersebut disebut berpotensi merugikan konsumen hingga Rp89 triliun.

Tag: beras premium, swasembada pangan, Bapanas, Bulog, ritel modern