Okinawa Menjadi Lokasi Hampir Separuh Kasus Kriminal yang Melibatkan Personel AS di Jepang
2026-10-11 17:07 WIB · aindari · 👁 643 dibaca

Data kepolisian Jepang menunjukkan 4.998 kasus kriminal terkait personel militer, pegawai sipil, dan keluarga militer AS sepanjang 1989 hingga Mei 2026.
Kepolisian Jepang mendata 4.998 perkara kriminal yang melibatkan anggota militer Amerika Serikat, pegawai sipil yang terkait dengan militer AS, serta anggota keluarga mereka selama periode 1989 hingga Mei 2026. Data tersebut mencakup kejadian di berbagai wilayah Jepang dan dilaporkan media Akahata berdasarkan informasi dari Badan Kepolisian Nasional Jepang.
Okinawa mencatat jumlah tertinggi dengan 2.447 kasus atau 49 persen dari keseluruhan perkara. Kanagawa berada di urutan berikutnya dengan porsi 18,3 persen, sementara Tokyo menyumbang 8,9 persen. Konsentrasi kasus di tiga wilayah itu berkaitan dengan keberadaan fasilitas militer AS, terutama di Okinawa.
Dalam rentang waktu yang sama, terdapat 266 perkara kejahatan berat di seluruh Jepang. Kategori ini mencakup pembunuhan, perampokan, pembakaran yang dilakukan dengan sengaja, dan pemerkosaan. Okinawa mencatat 129 kasus, disusul Kanagawa dengan 67 kasus dan Tokyo sebanyak 34 kasus.
Laporan tersebut menyoroti beban yang ditanggung Jepang sebagai negara tempat pangkalan militer AS berada. Akahata menilai pemerintah Jepang dan Amerika Serikat belum mengambil langkah yang efektif untuk menangani persoalan kriminal yang melibatkan personel terkait militer AS. Penilaian itu terutama diarahkan pada situasi di Okinawa.
Wilayah Okinawa hanya mencakup sekitar 0,6 persen daratan Jepang, tetapi menampung sekitar 70 persen fasilitas serta instalasi militer AS yang digunakan secara eksklusif di Jepang. Jumlah kasus yang melibatkan personel terkait militer AS di prefektur tersebut mencapai 101 perkara pada tahun lalu. Angka itu menjadi yang tertinggi dalam satu tahun sejak 2003 dan untuk pertama kalinya kembali melewati 100 kasus dalam periode tersebut.
Porsi Okinawa terhadap seluruh kasus nasional juga mencapai 67,8 persen menurut laporan Akahata. Proporsi itu disebut sebagai rekor tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1989. Tingginya beban fasilitas militer dan akumulasi kasus berpotensi memperkuat sentimen publik yang menolak kehadiran pangkalan AS di wilayah tersebut.
Ketegangan kembali terlihat setelah polisi Okinawa menangkap seorang anggota Korps Marinir AS yang bertugas di Pangkalan Udara Korps Marinir Futenma pada 4 Oktober. Ia diduga terlibat dalam perampokan dan pembunuhan seorang perempuan setempat. Penangkapan tersebut kembali memicu kemarahan masyarakat Okinawa terhadap persoalan yang berkaitan dengan kehadiran militer AS.
Tag: Jepang, Okinawa, Amerika Serikat, pangkalan militer, kriminalitas