Badak Sumatra: Spesies Terkecil dengan Dua Cula yang Terancam Punah
2026-10-12 17:07 WIB · aindari · 👁 891 dibaca

Badak Sumatra memiliki sejumlah ciri khas, tetapi kehilangan habitat, perburuan ilegal, dan reproduksi yang lambat membuat keberadaannya semakin terdesak.
Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) menjadi salah satu satwa khas Indonesia yang memiliki keunikan di antara lima spesies badak yang masih hidup. Satwa ini merupakan badak berukuran paling kecil di dunia sekaligus satu-satunya badak Asia yang mempunyai dua cula. Berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), statusnya berada pada kategori Critically Endangered atau kritis. WWF menyebut kategori tersebut menunjukkan risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar.
Dua cula terletak di bagian depan kepala. Cula bagian depan umumnya lebih panjang, sedangkan bagian belakang dapat berukuran pendek dan hanya terlihat sebagai tonjolan. Berbeda dari badak Jawa dan badak India yang masing-masing hanya memiliki satu cula, badak Sumatra mempunyai ciri ganda tersebut. Cula tersusun atas keratin, bahan yang juga terdapat pada rambut dan kuku manusia, bukan tulang. Bagian ini dapat terus tumbuh sepanjang hidup, tetapi sekaligus membuat badak menjadi target perburuan ilegal untuk memenuhi permintaan pasar gelap.
Ukuran tubuhnya berkisar 1 hingga 1,5 meter pada bagian bahu, dengan bobot sekitar 600 sampai 950 kilogram. Ukuran yang relatif kecil membantu satwa ini bergerak di hutan yang rapat ketika mencari makanan dan air. Tubuh badak Sumatra ditumbuhi rambut kasar berwarna cokelat kemerahan. Rambutnya lebih tebal saat masih muda, lalu menjadi lebih jarang dan kasar ketika dewasa. Karakter tersebut membuatnya dikenal pula sebagai hairy rhinoceros atau badak berbulu.
Badak Sumatra memiliki hubungan evolusioner yang dekat dengan woolly rhinoceros, atau badak berbulu purba yang telah punah. Kedekatan ini menjadikannya penting bagi kajian mengenai evolusi mamalia dan sejarah perubahan kelompok badak selama jutaan tahun. Dalam kesehariannya, badak Sumatra lebih sering hidup sendiri. Individu dewasa menjelajah dan mencari makan secara terpisah, meski tetap bertemu untuk kawin. Betina juga menemani anaknya selama masa pengasuhan.
Komunikasi tetap berlangsung meski satwa ini cenderung soliter. Badak Sumatra dapat mengeluarkan siulan, lenguhan, serta panggilan pendek yang diduga membantu hubungan antarsesama di hutan lebat. Satwa ini juga gemar berkubang di lumpur untuk membantu menjaga kondisi tubuh dan kulit. Habitatnya harus menyediakan air, makanan, tempat berkubang, serta sumber mineral alami yang dikenal sebagai salt lick.
Reproduksinya berlangsung lambat. Masa kebuntingan diperkirakan sekitar 15 hingga 16 bulan, dan seekor betina biasanya melahirkan satu anak dalam satu kelahiran. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan populasi berjalan perlahan, terutama ketika jumlah individu sedikit dan habitatnya terpisah-pisah. Karena itu, perlindungan badak Sumatra perlu mencakup pencegahan perburuan ilegal serta pemeliharaan seluruh kebutuhan habitatnya.
Tag: badak Sumatra, satwa Indonesia, konservasi, satwa terancam punah, IUCN