Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Hiburan

Roy Julian Siapkan Lakon yang Tertunda untuk Pentas Tahun Depan

2026-10-13 06:04 WIB · aindari · 👁 907 dibaca

Sutradara Kantor Teater itu menunda pementasan "Kaktus dan Kuping Gajah" setelah lima pemain mundur, tetapi memastikan karya tersebut tetap akan dikembangkan.

Sutradara sekaligus pemain teater Roy Julian masih menyimpan satu karya yang belum dipentaskan. Lakon berjudul "Kaktus dan Kuping Gajah" itu ditunda setelah perubahan komposisi pemain dalam proses persiapan selama 10 bulan. Roy menyebut karya tersebut tetap masuk rencana produksi untuk pertunjukan lain pada tahun depan.

Untuk agenda di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Senin dan Selasa (13/10) malam, kelompok Kantor Teater memilih menampilkan "Kebun Hantu". Pertunjukan itu menjadi bagian dari Kanal Teater Dewan Kesenian Jakarta. Sebelumnya, Roy menyiapkan dua naskah pendek untuk rangkaian produksi tersebut.

"Kaktus dan Kuping Gajah" semula melibatkan 11 pemain. Namun, lima orang kemudian mengundurkan diri karena tidak dapat melanjutkan latihan. Kondisi itu membuat Roy menulis naskah baru dan menyimpan lakon sebelumnya untuk kesempatan yang lebih sesuai.

Keputusan tersebut juga berkaitan dengan gagasan "arsip tubuh" yang menjadi dasar tema Kanal Teater DKJ. Dalam pendekatan itu, pengalaman tubuh dan ingatan asli seorang pelakon menjadi bagian penting dari pertunjukan. Karena itu, peran pemain yang keluar dinilai tidak bisa begitu saja dialihkan kepada aktor lain tanpa mengubah pengalaman serta rasa karya.

Roy menegaskan bahwa lakon yang disimpan bukan karya yang dibatalkan. Naskah tersebut akan dipersiapkan lebih matang sebelum dipentaskan pada tahun berikutnya. Sementara itu, "Kebun Hantu" dibangun dari pengalaman tubuh para aktor sebagai sumber pengetahuan, bukan hanya sebagai materi pembentuk karakter atau penggerak alur cerita.

Dalam karya itu, pengalaman tubuh tidak selalu diterjemahkan menjadi kritik, penjelasan sebab-akibat, atau kesimpulan yang disepakati bersama. Salah satu bahasannya adalah kebiasaan berselancar di media sosial. Roy menggambarkan pengalaman pengguna yang dapat berpindah secara cepat dari tayangan bencana alam ke kisah percintaan, lalu ke berita kriminal, sehingga berbagai kesan bertumpuk secara acak tanpa hubungan logis yang jelas.

Bagi Roy, di antara tubuh yang mengalami, bahasa yang memberi penjelasan, dan teknologi yang merekam, terdapat bagian yang luput dan belum selesai. Unsur itulah yang ia sebut sebagai “hantu” dalam "Kebun Hantu", bukan sosok dari dunia lain, melainkan pengalaman yang masih tertinggal dalam tubuh. Ia berharap pertunjukan tersebut mendekati rasa menghantui yang muncul ketika seseorang melihat sesuatu di media sosial tetapi belum sepenuhnya memahami pengalaman itu.

Tag: Roy Julian, Kantor Teater, Kebun Hantu, Teater, Taman Ismail Marzuki