Kaki Terus Bergerak Saat Duduk, Selalu Berarti Gelisah?
2026-10-15 17:08 WIB · aindari · 👁 602 dibaca
Kebiasaan menggoyangkan kaki dapat berkaitan dengan ketegangan, tetapi juga bisa muncul karena bosan, kebiasaan, atau kebutuhan bergerak ketika duduk lama.
Gerakan kaki yang berulang ketika duduk kerap dibaca sebagai tanda seseorang sedang gugup, tidak nyaman, atau ingin meninggalkan percakapan. Perilaku ini mudah terlihat saat seseorang menunggu, mengikuti rapat, maupun berbicara dengan orang lain. Namun, satu gerakan tubuh tidak cukup untuk memastikan keadaan emosional seseorang. Menggoyangkan kaki bukan selalu pertanda kegelisahan.
Dalam istilah perilaku, gerakan kecil yang dilakukan berulang kali, kadang tanpa disadari, dikenal sebagai fidgeting. Cleveland Clinic menyebut perilaku semacam ini dapat muncul ketika seseorang mengalami ketegangan atau kegelisahan. Orang yang menunggu hasil wawancara kerja atau bersiap berbicara di depan banyak orang, misalnya, mungkin menggerakkan kakinya sebagai respons terhadap tekanan situasi.
Meski demikian, penyebabnya tidak selalu berkaitan dengan masalah emosional. Seseorang bisa melakukan kebiasaan tersebut karena merasa bosan, sudah terbiasa, atau membutuhkan sedikit gerakan setelah duduk dalam waktu lama. Karena itu, menyimpulkan seseorang sedang gugup hanya dari gerakan kakinya dapat menimbulkan penilaian yang keliru. Kebiasaan itu juga tidak otomatis menunjukkan seseorang tidak menyukai lawan bicara, termasuk ketika percakapan berlangsung dengan orang yang baru dikenal.
Bahasa tubuh lebih tepat dipahami dengan melihat keseluruhan situasi. Gerakan kaki yang disertai kebiasaan melihat jam, jawaban singkat, dan tanda-tanda ingin mengakhiri percakapan bisa menjadi petunjuk bahwa seseorang tidak sabar atau ingin pergi. Namun, orang yang sama mungkin saja menggerakkan kaki ketika sedang berpikir atau berkonsentrasi. Ekspresi wajah, nada bicara, perubahan perilaku, serta konteks percakapan perlu diperhatikan. Bila memungkinkan, menanyakan kondisi orang tersebut secara sopan lebih akurat daripada mengandalkan satu tanda.
Dari sisi kesehatan, menggoyangkan kaki sesekali umumnya bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Penelitian dalam Journal of Diabetes pada 2024 memang mengamati kemungkinan hubungan gerakan kaki berulang dengan metabolisme energi, tetapi penelitian itu hanya melibatkan 15 peserta dan berlangsung dalam waktu terbatas. Temuannya belum dapat menjadi dasar untuk menganggap kebiasaan tersebut sebagai pengganti olahraga atau aktivitas fisik rutin.
Perhatian lebih diperlukan jika muncul dorongan kuat untuk terus menggerakkan kaki, terutama saat beristirahat atau menjelang tidur, disertai kesemutan, gatal, nyeri, atau sensasi seperti ada sesuatu merayap. Menurut National Health Service Inggris, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan restless legs syndrome (RLS), gangguan sistem saraf yang biasanya memburuk pada malam hari atau saat tubuh beristirahat. Gerakan kaki dapat meredakan keluhan untuk sementara. Jika gejalanya mengganggu tidur atau aktivitas harian, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan.
Tag: bahasa tubuh, kebiasaan, kesehatan, kegelisahan, restless legs syndrome