Birufinery Bawa Biostimulan Rumput Laut Indonesia ke Panggung China
2026-10-25 06:02 WIB · aindari · 👁 857 dibaca

Startup asal Indonesia ini mengolah rumput laut dari Nusa Tenggara Timur menjadi biostimulan yang berpotensi menekan pemakaian pupuk kimia dan memperkuat ekonomi pesisir.
Startup Indonesia Birufinery meraih posisi sebagai salah satu dari empat pemenang kompetisi kewirausahaan sosial The Unlock Her Future 2026 di China. Perusahaan yang berdiri pada 2024 itu mengembangkan BiruLift, biostimulan berbahan rumput laut yang ditujukan untuk membantu tanaman menyerap nutrisi sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
CEO Birufinery Azalea Ayuningtyas menjelaskan, biostimulan berfungsi seperti vitamin bagi tanaman. Produk ini membantu tanaman menerima dan mengolah nutrisi dengan lebih baik, sedangkan pupuk menjadi sumber makanan utamanya. Penggunaan BiruLift disebut dapat menekan kebutuhan pupuk kimia hingga 30 persen, sehingga berpotensi mengurangi biaya produksi petani.
BiruLift memanfaatkan rumput laut dari Nusa Tenggara Timur. Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, tetapi sekitar 80 persen hasil produksinya masih dipasarkan sebagai bahan mentah. Komoditas tersebut menopang penghidupan hampir 1 juta penduduk pesisir dan lebih dari 267.000 rumah tangga.
Menurut Azalea, produk biostimulan berbasis rumput laut sebelumnya banyak menggunakan bahan dari perairan dingin Norwegia atau Kanada. Rumput laut dari wilayah tersebut hanya dipanen sekali setahun, sehingga produknya berharga tinggi dan cenderung menjadi barang premium. Birufinery melihat peluang dari bahan baku Indonesia, terutama ketika tanah menghadapi tekanan akibat El Niño, banjir, serta pemakaian pupuk kimia berlebihan.
Harga eceran BiruLift mencapai Rp110.000 per liter. Kebutuhan pemakaian untuk lahan seluas 1 hektare sekitar 5 liter. Pembelian dalam jumlah besar mendapat harga Rp90.000 per liter. Birufinery menyasar perusahaan besar sekaligus petani kecil, tetapi kelompok terakhir membutuhkan edukasi dan dukungan pendanaan agar dapat mengakses produk tersebut. Pendanaan dari The Bicester Collection dinilai dapat membantu pengembangan usaha itu.
Pengolahan rumput laut juga berpotensi memberi manfaat lingkungan. Tanaman laut tersebut menyerap nitrogen dari perairan dan dapat membantu mengurangi eutrofikasi laut, yang salah satunya berkaitan dengan tingginya penggunaan pupuk buatan. Model usaha Birufinery turut diarahkan untuk memperkuat pendapatan petani rumput laut di NTT, termasuk perempuan, sehingga membuka pilihan selain bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri.
Dalam kompetisi yang diikuti 12 finalis dari Asia Timur dan Asia Tenggara itu, Azalea dan Jihan Alfiyyah Munajat dari HerLens menjadi dua pemenang asal Indonesia. HerLens memakai AI untuk membantu bidan melakukan pemeriksaan awal kanker serviks di wilayah pedesaan. Pemenang lain ialah Kyle Li dari China melalui 38 Fixers dan Nhung Tran Huyen dari Vietnam melalui Tham Nhung Social Enterprise. Jieun Lee dari Korea Selatan dan Prangthong Tiengkate dari Thailand memperoleh penghargaan khusus. Para pemenang berhak atas peluang pendanaan hingga 100.000 dolar AS, mentoring, pelatihan kepemimpinan, akses pendidikan, jaringan bisnis internasional, dan eksposur media. The Bicester Collection, penyelenggara ajang, mengelola 12 destinasi belanja mewah terbuka di sejumlah kota dunia yang dikunjungi lebih dari 50 juta orang setiap tahun.
Tag: Birufinery, rumput laut, biostimulan, pertanian, wirausaha sosial