Law of Attraction: Antara Harapan, Usaha, dan Risiko Memendam Emosi
2026-11-07 17:11 WIB · aindari · 👁 1rb dibaca

Law of attraction mendorong pikiran positif dan tindakan terarah, tetapi belum memiliki bukti ilmiah tentang kemampuan ajaib mewujudkan keinginan.
Keinginan memiliki pekerjaan impian, bertemu idola, membeli mobil mewah, atau menjalani hidup sesuai cita-cita sering dikaitkan dengan law of attraction (LOA). Konsep ini menyatakan bahwa pikiran dan perilaku seseorang dapat memengaruhi berbagai hal yang hadir dalam kehidupannya. Penganutnya percaya, fokus pada hal positif bisa mendatangkan pengalaman dan hasil yang baik.
LOA dikenal luas melalui buku The Secret karya Rhonda Byrne. Dalam pandangan ini, sesuatu yang serupa dianggap saling menarik. Pikiran positif dipercaya membawa hasil positif, sedangkan pikiran negatif dipandang berpotensi menghadirkan hal buruk. Karena itu, seseorang dianjurkan terus membayangkan tujuan yang ingin dicapai, termasuk gambaran spesifik seperti memiliki mobil Ferrari berwarna merah.
Kepercayaan tersebut belum didukung bukti ilmiah yang membuktikan adanya efek ajaib LOA. Meski begitu, sejumlah penelitian mengaitkan pola pikir positif dengan manfaat kesehatan. Sikap tersebut disebut berkaitan dengan peluang hidup lebih panjang dan risiko penyakit jantung yang lebih rendah. Pola pikir berkembang atau growth mindset juga dinilai membantu seseorang mengelola stres, mengurangi risiko depresi, serta menghadapi kecemasan.
Dalam penerapannya, LOA tidak berhenti pada membayangkan keinginan. Penganut konsep ini juga menekankan perlunya tindakan nyata. Seseorang perlu menetapkan tujuan, mengerahkan usaha, dan mengenali potensi diri agar langkah yang diambil lebih terarah. Pikiran positif dapat membantu mengubah sudut pandang, sehingga seseorang merasa lebih percaya diri ketika menghadapi proses menuju tujuan.
Cara pandang itu membuat LOA bagi sebagian orang berfungsi sebagai sumber motivasi. Namun, keyakinan bahwa pikiran semata-mata dapat menentukan semua hasil kehidupan tetap tidak memiliki dasar ilmiah yang membuktikan kemampuan tersebut. Hasil yang diinginkan tetap membutuhkan usaha, sementara kondisi dan pengalaman setiap orang dapat berbeda.
LOA juga berisiko memunculkan toxic positivity bila dipahami sebagai kewajiban untuk selalu berpikir positif. Upaya menolak atau menyembunyikan emosi negatif justru dapat menekan perasaan yang semestinya dikenali. Merasa sedih, cemas, atau kecewa merupakan hal normal. Jika terus diabaikan, kondisi itu berpotensi mengganggu kesehatan mental. Karena itu, perasaan perlu diakui dan dipahami sebelum seseorang berusaha mengatasinya.
Tag: law of attraction, kesehatan mental, berpikir positif, toxic positivity, growth mindset