Sesar Lama Diduga Jadi Pemicu Gempa M7,1 Kumamoto, Ahli Waspadai Susulan Kuat
2026-07-29 06:11 WIB · aindari · 👁 474 dibaca

Para seismolog menduga gempa berkekuatan M7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, dipicu oleh bagian sesar yang tidak ikut bergeser saat gempa besar melanda wilayah yang sama sepuluh tahun lalu.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang barat daya Jepang pada Selasa sore membuka kembali pertanyaan ilmiah tentang warisan tektonik gempa kembar Kumamoto 2016. Para ahli seismologi menduga peristiwa terbaru ini dipicu oleh segmen sesar yang selama satu dekade menyimpan tekanan tanpa pernah melepaskannya, dan memperingatkan bahwa gempa susulan berkekuatan signifikan masih berpotensi terjadi.
Pusat gempa Selasa itu terletak di Prefektur Kumamoto, tidak jauh dari lokasi dua gempa besar yang melanda wilayah yang sama pada April 2016 — masing-masing berkekuatan M6,5 pada 14 April dan M7,3 dua hari sesudahnya. Ketiganya, termasuk gempa terbaru, mencatatkan intensitas seismik level 7 pada skala Jepang — tingkatan tertinggi dalam sistem pengukuran guncangan negara itu — di sejumlah titik di prefektur tersebut. Gempa 2016 sendiri meninggalkan luka dalam: kawasan itu rusak parah dan lebih dari 270 orang meninggal dunia.
Menurut Badan Meteorologi Jepang, gempa Selasa terjadi pukul 16.27 waktu setempat pada kedalaman 16 kilometer, dengan mekanisme sesar geser atau strike-slip fault — kondisi di mana dua lempeng berdekatan bergerak secara mendatar satu sama lain. Karakteristik ini serupa dengan gempa 2016. Meski demikian, badan tersebut hingga kini belum secara resmi menyatakan keterkaitan langsung antara gempa terbaru dan rangkaian gempa satu dekade lalu.
Di wilayah tengah Pulau Kyushu, sejumlah zona sesar aktif membentang, termasuk zona sesar Hinagu dan Futagawa yang menjadi sumber gempa 2016. Para ahli telah berulang kali mengingatkan bahwa bagian selatan zona sesar Hinagu — yang memanjang hingga ke perairan Laut Yatsushiro — hampir tidak mengalami pergeseran pascagempa 2016, menjadikannya segmen yang menyimpan potensi energi besar.
Shinji Toda, profesor seismologi dari Universitas Tohoku, menganalisis aktivitas seismik di sekitar zona sesar Hinagu selama sepuluh tahun terakhir dan menemukan bahwa frekuensi gempa berkekuatan M1,5 atau lebih telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelum 2016. Toda menjelaskan bahwa gempa 2016 diyakini telah membangun tegangan dan tekanan besar yang pada akhirnya mendorong pergerakan di sepanjang zona sesar Hinagu dalam peristiwa kali ini. Ia juga menyebut kedua rangkaian gempa tersebut memiliki mekanisme pemicu yang serupa.
Dengan aktivitas seismik yang masih berlangsung dan segmen sesar yang belum sepenuhnya melepaskan energinya, para ahli mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang kuat dalam waktu dekat.
Tag: gempa Kumamoto, seismologi, sesar Hinagu, Jepang, gempa susulan