Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Gempa Dangkal Kumamoto Jadi Cermin Mitigasi Sesar Aktif bagi Negara Rawan Gempa

2026-07-29 17:04 WIB · aindari · 👁 949 dibaca

Pakar kebencanaan Indonesia menyebut gempa M6,8 Kumamoto sebagai pelajaran kritis soal destruktivitas sesar aktif di darat dan pentingnya sistem peringatan dini otomatis.

Gempa bermagnitudo 6,8 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Selasa (28/7) menyimpan pelajaran serius bagi negara-negara rawan gempa, termasuk Indonesia. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa kejadian ini memperlihatkan betapa tingginya potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh sesar aktif di darat, terutama ketika hiposenter berada pada kedalaman yang sangat dangkal.

Menurut Daryono, kedalaman pusat gempa yang hanya sekitar 10 kilometer menjadi faktor penentu mengapa guncangan terasa begitu dahsyat hingga mencapai skala intensitas Shindo 7 — level tertinggi dalam sistem pengukuran gempa Jepang yang menggambarkan guncangan mampu meruntuhkan bangunan tahan gempa sekalipun. Eks Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG itu menjelaskan bahwa semakin dangkal sumber gempa, semakin besar energi yang langsung dirasakan di permukaan tanah.

Dampak fisik yang ditimbulkan mencakup kerusakan benteng bersejarah, pergeseran bentang jembatan tol, retakan tanah berskala besar yang memutus sejumlah ruas jalan utama, serta puluhan warga yang mengalami luka-luka. Tanah longsor juga terpicu di Gunung Mayu, Shimabara, Prefektur Nagasaki, yang terletak di seberang teluk Kumamoto. Ribuan permukiman sempat mengalami pemadaman listrik total.

Di sisi respons darurat, sistem kereta cepat Shinkansen di seluruh koridor Kyushu langsung dihentikan secara otomatis sebagai prosedur keselamatan, sementara aliran listrik diputus untuk mencegah risiko bencana susulan. Daryono menilai respons otomatis ini sebagai contoh nyata penerapan sistem mitigasi yang perlu diadopsi lebih luas, khususnya di kawasan permukiman yang berdiri di atas zona sesar aktif.

Dari sisi ilmiah, para pakar seismologi memperingatkan bahwa pelepasan energi pada gempa M6,8 ini belum tentu menandai berakhirnya aktivitas seismik di wilayah tersebut. Masih belum dapat dipastikan apakah seluruh tegangan batuan telah terlepaskan atau masih tersimpan di segmen bagian selatan sesar. Jika akumulasi tegangan di segmen itu belum sepenuhnya terlepas, gempa susulan berkekuatan signifikan berpotensi terjadi dan bisa mengulang pola krisis seismik beruntun seperti yang terjadi pada rangkaian gempa Kumamoto 2016.

Merespons hal itu, Daryono menekankan perlunya evaluasi berkala terhadap struktur bangunan lama serta penguatan sistem peringatan dini otomatis di area rawan. Ia juga mengimbau negara-negara rawan gempa untuk memperketat regulasi konstruksi tahan gempa dan memperluas pemetaan detail zona sesar aktif di darat. Masyarakat dan otoritas lokal di Kumamoto diimbau untuk tetap berada dalam kewaspadaan penuh selama potensi gempa susulan masih ada.

Tag: gempa Kumamoto, sesar aktif, mitigasi bencana, seismologi, Jepang