Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Sisa Roket Falcon 9 Diprediksi Menghantam Permukaan Bulan pada 5 Agustus, Apa Konsekuensinya?

2026-08-01 17:03 WIB · aindari · 👁 593 dibaca

Bagian atas roket Falcon 9 milik SpaceX yang telah lama mengorbit diperkirakan akan jatuh menabrak Bulan, memunculkan kekhawatiran soal dampak lingkungan di permukaan lunar dan absennya regulasi internasional yang memadai.

Sebuah sisa roket Falcon 9 buatan SpaceX diproyeksikan akan menabrak permukaan Bulan pada 5 Agustus mendatang. Objek tersebut merupakan bagian upper stage roket yang telah lama berada di orbit setelah menyelesaikan misinya dan kini kehilangan energi orbital secara bertahap hingga lintasannya berpotongan dengan Bulan.

Tabrakan semacam ini bukan peristiwa tanpa jejak. Para ilmuwan memperkirakan bahwa hantaman tersebut akan menghasilkan kawah baru di permukaan Bulan. Selain itu, debu yang terlempar akibat tumbukan berpotensi bertahan dalam waktu lama karena Bulan tidak memiliki atmosfer maupun cuaca yang dapat mengikis atau menghilangkan material tersebut. Kondisi ini membuat setiap dampak fisik di permukaan lunar bersifat nyaris permanen dalam skala waktu manusia.

Peristiwa ini menjadi semacam alarm bagi komunitas antariksa global. Semakin banyaknya peluncuran roket komersial dalam beberapa tahun terakhir berarti semakin banyak pula puing-puing yang ditinggalkan di orbit dan berpotensi menabrak benda langit lain, termasuk Bulan. Tanpa pengelolaan yang terencana, akumulasi sampah antariksa bisa menimbulkan masalah jangka panjang bagi eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa di masa depan.

Yang menjadi sorotan utama dari insiden ini adalah ketiadaan regulasi internasional yang secara spesifik mengatur dampak kerusakan akibat jatuhnya puing roket di permukaan benda langit. Hingga saat ini, kerangka hukum antariksa yang berlaku belum memiliki mekanisme yang jelas untuk menangani atau mencegah situasi seperti ini. Tidak ada aturan yang mewajibkan perusahaan peluncuran untuk memastikan sisa roket mereka tidak menabrak Bulan atau benda langit lainnya.

Absennya regulasi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan aktivitas komersial di ruang angkasa telah melaju jauh melampaui kesiapan kerangka hukum yang mengaturnya. Para pengamat menilai bahwa peristiwa tabrakan roket bekas di Bulan seharusnya menjadi momentum bagi komunitas internasional untuk mulai menyusun aturan yang lebih komprehensif terkait pengelolaan sampah antariksa dan perlindungan lingkungan benda-benda langit.

Kasus ini juga menyoroti tanggung jawab perusahaan swasta seperti SpaceX yang kini mendominasi industri peluncuran. Dengan frekuensi peluncuran Falcon 9 yang sangat tinggi, volume sisa roket yang ditinggalkan di orbit pun terus bertambah. Tanpa protokol deorbit yang terstandarisasi atau kewajiban untuk membuang upper stage secara terkendali, insiden serupa kemungkinan akan terulang di masa mendatang.

Tag: SpaceX, Falcon 9, sampah antariksa, regulasi ruang angkasa, tabrakan Bulan