Ruwatan Gimbal Dieng Pikat Ribuan Pengunjung dari Dalam dan Luar Negeri di DCF 2026
2026-08-29 17:04 WIB · aindari · 👁 855 dibaca

Prosesi pemotongan rambut gimbal di Kompleks Candi Arjuna menjadi pusat perhatian festival budaya tahunan Dieng yang tahun ini kembali menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ribuan pasang mata memadati Kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Sabtu dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026. Lebih dari 2.000 wisatawan dari berbagai penjuru Indonesia dan sejumlah negara hadir khusus untuk menyaksikan prosesi Ruwatan Anak Berambut Gimbal — ritual pemotongan rambut yang telah diwariskan masyarakat Dieng secara turun-temurun dan kini menjadi salah satu daya tarik utama festival tersebut.
Bagi banyak pengunjung, momen ini bukan sekadar tontonan, melainkan kesempatan langka untuk bersentuhan langsung dengan kearifan lokal yang masih terjaga. Nur Asyiah, wisatawan asal Jakarta yang hadir bersama putrinya Sabrina, mengaku baru pertama kali mengikuti prosesi semacam ini. Ia menyebut suasana Dieng terasa kontras dengan keseharian di ibu kota — langit biru, udara sejuk, dan alam yang masih asri menjadi pengalaman yang ia anggap menyegarkan. Bahkan menurutnya, suhu di Dieng terasa begitu dingin hingga kipas angin pun tidak diperlukan meski di siang hari.
Sabrina sendiri sempat berencana mendaki Bukit Sikunir setelah tertarik melihat penampilannya di media sosial, namun rencana itu urung terlaksana karena kelelahan dan kesiangan. Ia dan ibunya berjanji akan kembali ke Dieng pada kesempatan lain, kali ini mengajak lebih banyak anggota keluarga.
Kesan serupa datang dari Madina, wisatawan asal Kazakhstan yang menjadikan DCF 2026 sebagai bagian dari perjalanan pertamanya ke Indonesia. Berlatar belakang jurnalistik dan bekerja di bidang kehumasan, Madina sengaja menjelajahi Pulau Jawa termasuk Jakarta dan beberapa daerah lainnya. Ia menilai pengalaman di Dieng terasa autentik dan khas Indonesia — tidak terlalu terpengaruh budaya Barat — dan menyebut atmosfer festival secara keseluruhan sangat berkesan.
Di luar dimensi budaya, DCF juga membawa dampak nyata bagi perekonomian lokal. Bupati Banjarnegara Amalia Desiana menegaskan bahwa festival ini bukan program pemerintah semata, melainkan buah kolaborasi berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap budaya, pariwisata, dan pengembangan UMKM dalam ekosistem ekonomi kreatif. Merujuk data Bank Indonesia, penyelenggaraan DCF 2025 tercatat menggerakkan perputaran uang sekitar Rp50 miliar di wilayah tersebut — angka yang menggambarkan potensi ekonomi signifikan dari sebuah festival berbasis tradisi lokal.
Tag: Dieng Culture Festival, Ruwatan Gimbal, Wisata Budaya, Banjarnegara, Pariwisata