Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Iran Umumkan Zona Maritim Baru di Luar Hormuz, Kapal yang Masuk Terancam Sanksi

2026-09-07 08:31 WIB · aindari · 👁 974 dibaca

Teheran berencana menetapkan kawasan terbatas di luar Selat Hormuz dalam hitungan hari, seiring eskalasi ketegangan militer dengan Amerika Serikat yang belum mereda.

Iran bersiap memberlakukan zona maritim baru berkategori "terbatas" di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan. Setiap kapal yang memasuki kawasan tersebut akan masuk daftar sanksi Iran. Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, dalam wawancara dengan televisi pemerintah Press TV pada Minggu.

Menurut Rezaei, zona baru itu akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat dan mencakup sejumlah wilayah di kawasan Teluk. Bersamaan dengan pengumuman tersebut, ia menyebut Iran dan Oman akan segera menandatangani kesepakatan mengenai koridor pelayaran baru melalui Selat Hormuz, dengan titik masuk dan keluar berada di bawah kendali Teheran.

Rezaei juga menegaskan bahwa Selat Hormuz saat ini sepenuhnya tertutup dan berada di bawah kendali angkatan bersenjata Iran. Ia menyebut pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim jalur strategis itu masih terbuka sebagai kebohongan. Sebelum penutupan, lebih dari 100 kapal dengan muatan lebih dari 100 juta ton kargo melintas setiap harinya. Kini, hanya tujuh hingga delapan kapal pembawa kebutuhan pokok untuk Iran yang diizinkan lewat. Rezaei mengklaim kapal-kapal AS yang mencoba melintas kerap diserang, meski ia tidak merinci lebih lanjut. Iran disebut memilih tidak menenggelamkan kapal-kapal itu karena muatannya berupa minyak yang berpotensi merusak lingkungan laut.

Dalam wawancara yang sama, Rezaei mengklaim Iran telah menguji rudal antikapal baru yang ditembakkan di atas kapal perang AS sekitar 48 jam sebelumnya — sebuah pengujian yang disebutnya sebagai yang pertama kali dilakukan. Ia tidak menyebutkan nama kapal maupun lokasi insiden tersebut.

Rezaei turut membantah kabar bahwa blokade ekonomi AS telah memicu kelaparan luas di Iran. Menurutnya, pemerintah telah lama mempersiapkan diri menghadapi tekanan ekonomi dan memiliki cadangan pangan serta kebutuhan pokok yang memadai.

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat sejak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari. Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta kepentingan AS di kawasan. Pada Juni, kedua pihak menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dan Qatar, yang antara lain memuat komitmen untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, saling tuduh soal ingkar janji terus berlanjut, sementara ketegangan militer dan sengketa pelayaran belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Tag: Iran, Selat Hormuz, zona maritim, Amerika Serikat, ketegangan Timur Tengah