Iran Siapkan 'Zona Terlarang' di Luar Selat Hormuz, Ancam Sanksi bagi Kapal yang Masuk Tanpa Izin
2026-09-07 18:31 WIB · aindari · 👁 985 dibaca

Teheran berencana mengumumkan zona terlarang di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan sebagai bagian dari eskalasi tekanan terhadap Amerika Serikat.
Iran bersiap menetapkan kawasan terlarang di perairan luar Selat Hormuz, sebuah langkah yang menandai eskalasi baru dalam ketegangan antara Teheran dan Washington. Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengumumkan rencana tersebut dalam wawancara yang ditayangkan stasiun televisi negara IRIB TV pada Minggu malam (6/9).
Menurut Rezaei, zona terlarang itu akan membentang dari titik awal blokade angkatan laut Amerika Serikat hingga ke dalam kawasan Selat Hormuz dan Teluk Persia di sisi seberangnya. Setiap kapal yang memasuki zona tersebut tanpa berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak Iran akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi Teheran, dengan konsekuensi yang menyentuh cakupan asuransi serta hak pelayaran mereka di Selat Hormuz di masa mendatang.
Rezaei menegaskan bahwa Selat Hormuz saat ini telah ditutup sepenuhnya oleh Iran, dan menepis pernyataan AS yang menyebut kapal-kapal dan tanker minyak masih bebas melintas di jalur tersebut sebagai tidak benar. Ia mengakui ada sejumlah kapal yang mencoba melewati rute alternatif di dekat Oman dengan mematikan sistem navigasi agar tidak terdeteksi, namun mengklaim sebagian besar dari kapal-kapal itu telah mendapat respons dari pihak Iran. Meski begitu, ia menegaskan Iran tidak berniat menenggelamkan kapal-kapal tersebut untuk saat ini karena pertimbangan lingkungan.
Dalam pernyataan yang lebih mengejutkan, Rezaei mengungkapkan bahwa Iran telah untuk pertama kalinya menguji coba rudal antikapal perusak buatan dalam negeri terhadap kapal induk AS, sekitar 48 jam sebelum wawancara tersebut. Ia menyebut uji coba itu sebagai sinyal bahwa blokade angkatan laut AS rentan dan bisa ditembus. Langkah-langkah ini, menurut Rezaei, merupakan bagian dari pergeseran strategis Iran yang lebih luas dalam pendekatan perang dan diplomasinya guna memperketat tekanan terhadap Washington.
Rezaei juga menyampaikan bahwa Selat Hormuz baru akan dibuka kembali apabila AS mengambil langkah konkret untuk memenuhi kewajibannya berdasarkan nota kesepahaman perdamaian yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu. Selain itu, ia mengumumkan bahwa Iran dan Oman akan segera menetapkan koridor internasional baru untuk pelintasan melalui Selat Hormuz, yang pengelolaannya akan berada di tangan Iran.
Ketegangan di kawasan ini bermula setelah serangan yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang mendorong Teheran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz. Sebagai balasan, pasukan AS memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan kapal-kapal yang berlayar menuju atau dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Rencana penetapan zona terlarang baru ini berpotensi memperumit situasi di salah satu jalur pelayaran tersibuk dan terpenting di dunia bagi pasokan energi global.
Tag: Iran, Selat Hormuz, Amerika Serikat, blokade laut, ketegangan geopolitik