Kanada Balas Tarif AS dengan Kebijakan Senilai Rp352 Triliun, Perang Dagang Makin Memanas
2026-09-08 14:31 WIB · aindari · 👁 902 dibaca

Ottawa memberlakukan tarif balasan terhadap produk-produk Amerika Serikat senilai 27,6 miliar dolar Kanada sebagai respons atas kebijakan tarif 50 persen yang diterapkan Washington.
Ketegangan perdagangan antara Kanada dan Amerika Serikat memasuki babak baru setelah Ottawa secara resmi memberlakukan tarif balasan terhadap berbagai produk asal AS. Kebijakan itu mulai berlaku pada Selasa dini hari pukul 00:01 waktu setempat atau sekitar pukul 11:01 WIB, dengan total nilai produk yang terdampak mencapai 27,6 miliar dolar Kanada atau setara Rp352,2 triliun.
Besaran tarif yang ditetapkan Kanada bervariasi antara 15 hingga 50 persen, menyasar sejumlah komoditas strategis dari AS, termasuk produk baja, susu, peralatan industri, mesin pertanian, bubur kertas dan kertas, serta barang-barang elektronik. Pemerintah Kanada menegaskan bahwa kebijakan ini dirancang secara proporsional — setara "dolar per dolar" — mengacu pada tarif yang diberlakukan AS berdasarkan Pasal 338 Undang-Undang Tarif 1930.
Ottawa juga memperjelas bahwa tarif balasan ini hanya berlaku bagi produk yang secara langsung berasal dari AS. Produk yang sedang dalam perjalanan transit pada hari pemberlakuan tidak akan dikenai pungutan tersebut, sebuah ketentuan yang mencerminkan kehati-hatian Kanada dalam meminimalkan dampak terhadap rantai pasokan yang sedang berjalan.
Eskalasi ini bermula dari kegagalan perundingan bilateral antara kedua negara pada akhir Agustus. Setelah dialog itu buntu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif sebesar 50 persen untuk produk impor dari Kanada, menargetkan baja, aluminium, kayu, serta komponen otomotif. Langkah Trump tersebut didasarkan pada Pasal 338 yang memberikan kewenangan kepada presiden untuk merespons hambatan perdagangan dari negara mitra.
Sengketa dagang antara dua negara bertetangga ini sebenarnya bukan hal baru di era pemerintahan Trump. Sejak kembali menjabat, Trump telah berulang kali mengkritik hubungan dagang dengan Kanada, menyoroti defisit perdagangan AS sebagai alasan utama penerapan tarif. Ia bahkan berulang kali menuding Ottawa berlaku tidak jujur dalam hubungan dagang dengan Washington.
Konflik ini menandai salah satu gesekan dagang paling serius antara dua mitra ekonomi terbesar di Amerika Utara. Dengan kedua pihak kini saling memberlakukan tarif tinggi pada komoditas-komoditas inti, prospek penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat tampak semakin tidak pasti, dan tekanan terhadap pelaku industri di kedua negara berpotensi terus meningkat.
Tag: Kanada, Amerika Serikat, perang dagang, tarif impor, Donald Trump