Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Kilang Cilacap Disiapkan Jadi Pusat Produksi Bahan Bakar Hijau Nasional, Beroperasi Penuh 2029

2026-09-11 06:09 WIB · aindari · 👁 716 dibaca

Pertamina menargetkan kilang bioavtur di Cilacap mulai beroperasi 2027 dengan investasi 1,1 miliar dolar AS, berpotensi mendongkrak PDB hingga Rp199 triliun per tahun.

Pertamina Patra Niaga memproyeksikan Kilang Cilacap sebagai green refinery pertama di Indonesia yang dirancang khusus untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar. Fasilitas ini diarahkan menjadi tulang punggung kemandirian energi hijau nasional, termasuk untuk memenuhi kebutuhan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Proyek kilang bioavtur yang akan dibangun di atas lahan seluas 17,5 hektare di dekat Kilang Unit IV Cilacap itu membutuhkan investasi sekitar 1,1 miliar dolar AS. Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro, menyebut proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pada 2027 dan beroperasi penuh pada 2029.

Saat ini, kapasitas produksi SAF di unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) Cilacap baru mencapai 27 kiloliter per hari. Setelah kilang bioavtur baru beroperasi, kapasitas produksi diproyeksikan melonjak menjadi 887 kiloliter per hari — naik sekitar 860 kiloliter dari kapasitas yang ada sekarang.

Dari sisi ekonomi, proyek ini diklaim berpotensi menambah kontribusi terhadap produk domestik bruto sebesar Rp199 triliun per tahun. Selain itu, pembangunan dan operasional kilang diperkirakan mampu menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja, sekaligus menekan emisi tahunan hingga 600 ribu ton setara karbon dioksida.

Salah satu aspek yang menonjol dari proyek ini adalah penggunaan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) sebagai bahan baku SAF. Pemanfaatan limbah dapur rumah tangga dan industri makanan sebagai sumber energi penerbangan ini dinilai sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, mengubah material yang sebelumnya dibuang menjadi bagian dari rantai nilai energi nasional.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan dan ketahanan energi bukan dua agenda yang terpisah, melainkan harus dibangun secara bersamaan. Pengembangan SAF disebut sebagai respons terhadap kebutuhan sektor penerbangan global yang semakin menuntut bahan bakar dengan jejak karbon lebih rendah.

Dengan kombinasi target produksi masif, bahan baku berbasis limbah, dan proyeksi dampak ekonomi yang signifikan, Kilang Cilacap ditempatkan sebagai proyek strategis dalam peta transisi energi Indonesia — meski realisasinya masih bergantung pada kelancaran pembangunan dan pemenuhan investasi dalam beberapa tahun ke depan.

Tag: Pertamina, kilang bioavtur, Sustainable Aviation Fuel, energi hijau, Cilacap