Di Forum BRICS, Indonesia Serukan Pengurangan Ketergantungan pada Dolar AS
2026-09-15 06:09 WIB · aindari · 👁 955 dibaca

Indonesia mendorong penggunaan mata uang lokal di antara negara-negara BRICS sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Indonesia membawa agenda pengurangan ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat ke forum KTT BRICS yang digelar di India. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia secara aktif mengajak negara-negara anggota untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara, sebagai langkah menghadapi gejolak ekonomi global yang kian tidak menentu.
Dorongan ini sejalan dengan posisi Indonesia yang semakin tegas dalam mendiversifikasi instrumen pembayaran internasional. Pemerintah dan Bank Indonesia menilai ketergantungan berlebih pada dolar AS membuat perekonomian negara berkembang rentan terhadap fluktuasi kebijakan moneter Amerika Serikat maupun dinamika geopolitik yang memengaruhi nilai tukar.
Salah satu langkah konkret yang tengah dijajaki adalah kerja sama antara Bank Indonesia dan bank sentral India. Kedua institusi mengeksplorasi kemungkinan transaksi langsung menggunakan rupiah dan rupee, sekaligus membuka peluang penggunaan sistem pembayaran digital QRIS di India. Jika terealisasi, skema ini berpotensi memangkas biaya konversi mata uang sekaligus memperkuat konektivitas keuangan kedua negara.
Gagasan de-dolarisasi ini bukan hal baru di panggung BRICS. Blok yang kini mencakup sejumlah ekonomi besar dunia itu memang tengah mengalami metamorfosis, dengan agenda mengurangi dominasi dolar dalam perdagangan global menjadi salah satu isu sentral. Indonesia, sebagai anggota yang bergabung belakangan, memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi tawar dalam arsitektur keuangan internasional.
Di sisi lain, langkah kolektif negara-negara BRICS ini juga dibaca sebagai sinyal peringatan bagi Amerika Serikat, khususnya di tengah ketegangan dagang yang masih membayangi hubungan Washington dengan berbagai mitra globalnya. Potensi pergeseran transaksi internasional dari dolar ke mata uang lokal dapat memengaruhi sentimen pasar terhadap aset-aset berdenominasi dolar, meski dampak jangka panjangnya masih bergantung pada sejauh mana komitmen negara-negara anggota dapat diimplementasikan secara nyata.
Bagi Indonesia, agenda ini juga memiliki dimensi domestik. Penggunaan rupiah yang lebih luas dalam perdagangan kawasan dinilai dapat membantu menstabilkan nilai tukar dan mengurangi tekanan pada cadangan devisa saat dolar menguat. Namun, keberhasilan strategi ini sangat ditentukan oleh kesiapan infrastruktur keuangan serta kepercayaan mitra dagang terhadap stabilitas mata uang masing-masing negara.
Tag: BRICS, de-dolarisasi, mata uang lokal, Bank Indonesia, rupiah