Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau Bayangi Operasi Pencarian Jurnalis di Selat Sunda
2026-09-15 17:09 WIB · aindari · 👁 909 dibaca

Tim SAR gabungan tetap bergerak di hari kedelapan pencarian, namun ancaman erupsi Gunung Anak Krakatau memaksa setiap langkah diukur ketat.
Operasi pencarian rombongan jurnalis dan kru kapal cepat yang hilang di Selat Sunda memasuki hari kedelapan pada Selasa ini dengan satu tantangan tambahan: kondisi Gunung Anak Krakatau yang terus dipantau akibat aktivitas vulkanik yang meningkat. Basarnas menegaskan bahwa potensi bahaya dari gunung tersebut menjadi pertimbangan khusus dalam setiap pergerakan tim SAR gabungan di perairan Kabupaten Pandeglang, Banten.
Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten, Rizky Dwianto, mengungkapkan bahwa hasil evaluasi bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan sinyal yang perlu diwaspadai. Meski erupsi belum terjadi, akumulasi energi dari aktivitas vulkanik dangkal Gunung Anak Krakatau dinilai berpotensi memicu erupsi yang skalanya lebih besar dibanding sebelumnya. Kondisi ini mendorong tim untuk menempatkan keselamatan personel sebagai prioritas yang tidak bisa dikompromikan.
Data dari PVMBG menjadi pedoman utama pergerakan tim di lapangan. Secara visual, gunung terpantau tertutup kabut, sementara dari sisi kegempaan tercatat adanya gempa vulkanik dangkal disertai tremor yang berlangsung terus-menerus. Selain itu, data cuaca dari BMKG turut dijadikan acuan. Kondisi perairan Selat Sunda dilaporkan berawan dengan ketinggian gelombang antara 0,5 hingga 2,5 meter yang bergerak ke arah timur laut, serta kecepatan angin berkisar 5 hingga 20 knot dari arah tenggara menuju selatan.
Di tengah kondisi tersebut, operasi pencarian tetap berjalan dengan skala besar. Berdasarkan peta rencana operasi hari ini, tim SAR gabungan menyisir lima sektor di laut dengan total luas area sekitar 3.962 mil laut persegi. Belasan kapal dikerahkan, mulai dari armada Basarnas seperti KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, dan KN SAR Antasena, hingga kapal perang TNI AL seperti KRI Gilimanuk, KRI Leuser, KRI Lepu, dan KRI Kerambit, ditambah sejumlah kapal patroli Polairud.
Pembagian sektor dilakukan secara terperinci. Sektor A seluas 1.026 mil laut persegi ditangani KRI Gilimanuk dan KRI Leuser. Sektor B seluas 780 mil laut persegi menjadi tanggung jawab KN SAR Antasena dan KP Sanjaya. Sektor C seluas 825 mil laut persegi disisir oleh KN SAR Tetuka bersama KRI Lepu dan KRI Kerambit. Sektor D seluas 872 mil laut persegi melibatkan KN SAR Basudewa, RIB 02 Lampung, KAL Anyer, dan KAL Pahowang. Adapun sektor F seluas 459 mil laut persegi ditangani RIB 02 Banten, RBB Pulau Peucang, serta kapal-kapal Polairud.
Tag: Basarnas, Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, operasi SAR, jurnalis hilang