Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Hiburan

Indonesia Dalami Model Museum Modern dari Grand Egyptian Museum

2026-09-22 17:04 WIB · aindari · 👁 315 dibaca

Kementerian Kebudayaan mempelajari pengelolaan Grand Egyptian Museum di Mesir sebagai rujukan pengembangan museum modern berskala internasional.

Kementerian Kebudayaan menjadikan Grand Egyptian Museum atau GEM di Mesir sebagai salah satu rujukan dalam pengembangan museum modern di Indonesia. Pembelajaran itu dilakukan melalui pertemuan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan CEO Grand Egyptian Museum Authority, Prof. Dr. Ahmed Ghoneim, di Kairo.

Dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa, Fadli menyampaikan bahwa Indonesia tengah mendorong lahirnya museum-museum yang lebih modern. Dari GEM, pemerintah ingin melihat cara sebuah institusi dengan koleksi besar dikelola secara profesional, tampil menarik bagi publik, dan tetap memiliki posisi kuat di tingkat internasional.

Pembahasan dalam pertemuan tersebut mencakup banyak aspek pengelolaan museum. Kemenbud mempelajari tata kelola kelembagaan, konservasi dan manajemen koleksi, kurasi pameran, cara menyajikan materi kepada pengunjung, penggunaan teknologi, pengaturan fasilitas, hingga strategi menjaga keberlanjutan operasional museum.

Ahmed Ghoneim menjelaskan bahwa GEM dibangun dengan tiga fungsi utama. Pertama, egyptology and research, yakni museum sebagai pusat kajian dan pengembangan pengetahuan tentang peradaban Mesir. Kedua, global tourism and heritage, yang menempatkan museum sebagai bagian dari ekosistem pariwisata serta warisan budaya dunia. Ketiga, cultural communication, yaitu museum sebagai ruang komunikasi budaya antara Mesir dan masyarakat internasional.

Pendekatan tersebut menjadi perhatian Indonesia karena museum masa kini tidak cukup hanya menyimpan koleksi penting. Koleksi perlu diolah menjadi pengetahuan, pengalaman, dan narasi yang mudah diakses serta dipahami masyarakat luas. Dengan konsep itu, museum dapat berfungsi sebagai ruang edukasi, destinasi budaya, sekaligus penghubung antarmasyarakat.

Skala pembangunan GEM juga menjadi bagian dari pembahasan. Dalam pertemuan itu disebutkan bahwa biaya pembangunan museum tersebut mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS sebelum dibuka. GEM juga disebut mampu menghasilkan profit sekitar 15 juta dolar AS per tahun. Informasi ini memberi gambaran mengenai besarnya kebutuhan investasi dan potensi pengelolaan ekonomi sebuah museum berskala besar.

Kemenbud turut menyoroti efisiensi energi sebagai unsur penting dalam operasional museum modern. Penggunaan energi surya, peningkatan efisiensi sistem pendingin udara, dan pengaturan pencahayaan menjadi bagian dari pembelajaran yang dinilai relevan bagi Indonesia. Pengembangan museum, dalam pandangan pemerintah, tidak hanya menyangkut bangunan fisik, tetapi juga kemampuan beroperasi secara berkelanjutan, aman, efisien, dan memberi pengalaman terbaik bagi pengunjung.

Tag: Kementerian Kebudayaan, Grand Egyptian Museum, museum modern, Fadli Zon, budaya