Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Emas Tertekan Dua Sesi, Dolar AS dan Sinyal The Fed Jadi Sorotan

2026-09-25 17:06 WIB · aindari · 👁 544 dibaca

Harga emas melemah dua hari beruntun saat pasar mencermati sikap hawkish The Fed, penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, dan pergerakan harga minyak.

Harga emas kembali berada dalam tekanan setelah mencatat pelemahan selama dua hari berturut-turut. Pergerakan ini terjadi ketika pasar global masih menimbang arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, kekuatan dolar AS, serta perubahan pada instrumen lain seperti obligasi dan minyak.

Dalam perdagangan terbaru, emas disebut berkonsolidasi di bawah level US$4.300. Posisi tersebut menunjukkan ruang gerak harga logam mulia masih terbatas, terutama karena pelaku pasar menghadapi kombinasi sentimen yang kurang mendukung bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah sikap The Federal Reserve yang dinilai hawkish. Ketika bank sentral AS memberi sinyal kebijakan moneter ketat atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, minat terhadap emas berpotensi tertahan. Kondisi itu berkaitan dengan karakter emas yang tidak memberikan bunga, sehingga menjadi kurang menarik saat imbal hasil aset berbasis dolar meningkat.

Dolar AS yang kuat juga ikut membebani harga emas. Penguatan mata uang tersebut dapat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Dampaknya, permintaan berisiko melambat dan harga logam mulia lebih sulit mendapatkan dorongan kenaikan.

Tekanan lain datang dari kenaikan imbal hasil obligasi. Saat imbal hasil obligasi meningkat, investor memiliki alternatif instrumen yang menawarkan pengembalian. Situasi ini dapat mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, meski emas tetap dipantau ketika pasar menghadapi ketidakpastian.

Pergerakan harga minyak turut masuk dalam perhatian pasar. Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan moneter, sehingga menjadi bagian dari sentimen yang diperhitungkan investor. Di saat yang sama, harga perak juga disebut ikut melemah bersama emas, mencerminkan tekanan yang lebih luas pada kelompok logam mulia.

Ke depan, arah harga emas masih akan sangat dipengaruhi oleh persepsi pasar terhadap kebijakan The Fed, kekuatan dolar AS, serta imbal hasil obligasi. Jika sentimen terhadap dolar dan suku bunga tetap kuat, ruang pemulihan emas berpotensi terbatas. Namun, perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter dapat kembali mengubah minat investor terhadap logam mulia.

Tag: emas, The Fed, dolar AS, obligasi, komoditas