BNPB Nilai KRI Sriwijaya-100 Bisa Perkuat Respons Bencana di Wilayah Sulit Dijangkau
2026-09-28 17:05 WIB · aindari · 👁 736 dibaca

BNPB melihat pemanfaatan KRI Sriwijaya-100 untuk OMSP berpotensi mempercepat distribusi logistik, pengerahan armada, dan bantuan kemanusiaan saat bencana.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menilai kehadiran KRI Sriwijaya-100 dapat menjadi dukungan penting bagi operasi kemanusiaan dan penanganan bencana di Indonesia. Kapal induk itu diproyeksikan untuk Operasi Militer Selain Perang, termasuk misi tanggap darurat di daerah yang aksesnya terbatas.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan di Jakarta, Senin, bahwa kapal tersebut dapat membantu pengiriman logistik serta penempatan armada kapal dan helikopter untuk kebencanaan maupun SAR. Menurut dia, kebutuhan seperti itu sering muncul ketika wilayah terdampak tidak bisa dijangkau melalui jalur darat.
BNPB melihat pengalaman sejumlah bencana sebagai gambaran pentingnya dukungan transportasi lintas moda. Pada akhir 2025, banjir bandang disertai longsor yang diperparah fenomena Siklon Senyar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membuat penyaluran bantuan bertumpu pada jalur udara dan laut karena akses darat terputus. Kondisi serupa juga terjadi saat tanggap darurat erupsi Gunung Ruang di Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara, setahun sebelumnya, ketika ribuan warga harus segera dievakuasi dari ancaman material vulkanik sementara kapal yang tersedia di sekitar lokasi terbatas.
Berton menyatakan BNPB menyambut baik rencana pemanfaatan KRI Sriwijaya-100. Ia menilai keberadaan pusat pengiriman logistik sekaligus tempat penempatan alat utama sistem senjata yang dapat digerakkan ke daerah terdampak akan membantu operasi di wilayah kepulauan atau lokasi yang sulit ditembus.
Meski demikian, BNPB belum memaparkan teknis pengoperasian maupun perlengkapan khusus kebencanaan yang akan digunakan di kapal tersebut. Berton menyebut pembahasan masih berjalan di tingkat kementerian dan lembaga, dengan koordinasi antara Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan serta Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Untuk kebutuhan tertentu seperti penanganan kebakaran hutan dan lahan, ia menyarankan penjelasan teknis merujuk kepada menko terkait karena karhutla berada di bawah koordinasi Menko Polkam selaku Ketua Satgas Karhutla Nasional, sedangkan dampak bencana hidrometeorologi dan geologi berada dalam koordinasi Menko PMK.
KRI Sriwijaya-100 sebelumnya merupakan eks-ITS Giuseppe Garibaldi buatan Italia. Kapal itu resmi berganti nama melalui upacara penurunan bendera di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis, 24 September. Kapal tersebut memiliki panjang 180 meter, lebar 33 meter, bobot penuh 13.850 ton, daya jelajah hingga 7.000 mil laut, dan kecepatan maksimum 30 knot.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya menyampaikan bahwa KRI Sriwijaya-100 diprioritaskan untuk mendukung OMSP. Kapal ini diproyeksikan sebagai pangkalan terapung utama guna mempercepat tanggap darurat bencana di negara kepulauan seperti Indonesia. Kapasitasnya mencapai 550 awak, lebih besar dibanding KRI Brawijaya-320 yang menampung sekitar 203 personel awak kapal.
Tag: BNPB, KRI Sriwijaya-100, penanggulangan bencana, OMSP, TNI AL